Presiden Prabowo Gagal Panen Raya di Wanam Akibat Tanaman Padi Kurang Baik
BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Rencana panen raya yang semula dijadwalkan dihadiri Presiden Republik Indonesia di kawasan Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terancam gagal akibat kekeringan ekstrem. Dari sekitar 100 hektare lahan yang semula diproyeksikan siap dipanen, kini hanya tersisa sekitar 10 hektare dengan kondisi tanaman yang dinilai kurang baik.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DP2KP) Provinsi Papua Selatan, Paino, mengungkapkan bahwa jadwal panen raya tersebut sebelumnya direncanakan berlangsung pada Oktober 2026. Namun, agenda itu kemudian diundur ke November karena menyesuaikan masa panen.
“Semula dijadwalkan RI 1 pada Oktober, tetapi karena menyesuaikan masa panen, akhirnya diundur ke November. Kami tidak menyangka pada bulan-bulan tersebut terjadi kekeringan ekstrem,” kata Paino kepada Bataspapua.com di ruang kerjanya, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan proyeksi awal, sekitar 100 hektare lahan diperkirakan dapat dipanen. Namun, kondisi di lapangan berubah akibat minimnya ketersediaan air. Luasan yang berpotensi dipanen kini diperkirakan hanya sekitar 10 hektare, itu pun dengan kondisi tanaman yang kurang baik.
“Yang tadinya diprediksi kurang lebih 100 hektare akan dipanen, ternyata tidak sampai. Tinggal 10 hektare, itu pun kondisinya kurang bagus,” ujarnya.
Paino menegaskan, berdasarkan perkembangan terakhir yang diketahuinya, Presiden tidak jadi melaksanakan panen raya di Wanam. Namun, pihaknya belum memperoleh informasi lanjutan mengenai kepastian agenda kunjungan Presiden ke kawasan tersebut.
“Beliau tidak panen raya di sana. Tetapi, apakah tetap datang untuk mengunjungi lokasi atau ada agenda lain, kami belum mengetahui informasi berikutnya,” katanya.
Selain kekeringan ekstrem, keterbatasan infrastruktur pengairan menjadi persoalan yang memengaruhi pertumbuhan tanaman di kawasan Wanam.
Paino menjelaskan, saluran-saluran air di lokasi tersebut masih dalam proses pengerjaan. Sebelumnya, kebutuhan air untuk lahan yang ditanami dipenuhi dari rawa yang berada di sekitar kawasan.
Namun, ketika rawa mulai mengering dan hujan tidak turun selama beberapa bulan, pasokan air semakin berkurang. Akibatnya, pertumbuhan tanaman tidak berlangsung maksimal dan potensi panen semakin menurun.
“Airnya kemarin diambil dari rawa. Tetapi, karena sudah kering, pertumbuhannya memang tidak maksimal. Sekarang beberapa bulan ini tidak ada hujan, kemungkinan tidak bisa dipanen,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pengembangan kawasan pertanian Wanam. Target produksi pangan dalam skala besar membutuhkan dukungan ketersediaan air yang memadai, terutama untuk menghadapi perubahan kondisi cuaca dan musim kering berkepanjangan.
Paino menyebutkan, pengembangan kawasan Wanam direncanakan mencapai sekitar satu juta hektare. Namun, setelah memperhitungkan kawasan hutan, termasuk hutan lindung, target lahan untuk persawahan diperkirakan berada di kisaran 800 ribu hektare lebih hingga 2030.
Meski demikian, pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Untuk saat ini, pemerintah memprioritaskan pembangunan jalan sepanjang kurang lebih 135 kilometer sebagai salah satu infrastruktur pendukung kawasan.
“Sekarang targetnya pembuatan jalan dulu, kurang lebih 135 kilometer. Tahun ini dikerjakan terlebih dahulu, kemudian tahap berikutnya menyusul,” jelas Paino.
Ia menambahkan, pencetakan sawah dalam skala luas tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun karena membutuhkan waktu dan tahapan pekerjaan yang panjang.
Wanam ditargetkan sebagai salah satu kawasan pengembangan pertanian berskala besar, persoalan kekeringan dan belum optimalnya sistem pengairan menjadi catatan penting. Tanpa jaminan ketersediaan air, lahan yang telah ditanami berisiko tidak menghasilkan panen sesuai target.
Penulis: Jamal Y.Bwariat










Tinggalkan Balasan