Seratus Hari Menuju Kebangkitan Pegunungan Bintang: Ketika Spei Yan Bidana Menyalakan Obor Perubahan dari Oksibil

Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST., M.Si., saat memimpin apel perdana ASN di halaman Kantor Bupati, Kukding, pada Senin, 17 Maret 2025,

BATASPAPUA.COM, OKSIBIL – Di atas perbukitan yang berselimut kabut, di tengah suara angin yang membawa nyanyian leluhur, sebuah obor peradaban dinyalakan. Obor itu adalah harapan. Obor itu adalah janji. Obor itu bernama Spei Yan Bidana.

Menjelang seratus hari sejak Spei Yan Bidana dan Arnold Nam dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pegunungan Bintang. Namun dalam waktu yang singkat itu, semangat baru telah mengalir deras di sepanjang lembah, gunung, dan sungai Pegubin.

Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2025-2030, Spei Yan Birdana, ST., M.Si. dan Arnold Nam, S.AP, saat tiba di Oksibil, Senin (03/03/2025).
Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2025-2030, Spei Yan Birdana, ST., M.Si. dan Arnold Nam, S.AP, saat tiba di Oksibil, Senin (03/03/2025).

Di balik seremoni saat ribuan masyarakat menyambut pimpinannya, tersimpan sebuah niat besar yang segera menjelma menjadi gerakan-gerakan yang mengubah wajah Oksibil, dan mengguncang jantung Pegubin dari keterpurukan menuju kebangkitan. Langkah-langkah berani dan tegas Bupati Spei tidak hanya mengejutkan birokrasi, tetapi juga membangkitkan harapan di tengah masyarakat: harapan akan daerah yang tertata, aman, bersih, dan bermartabat.

“Saya datang bukan untuk duduk di kursi empuk. Saya datang untuk menyingsingkan lengan baju. Pegubin harus berubah, sekarang, bukan besok.” – (Spei Yan Bidana, Apel Perdana, 17 Maret 2025)

Babak I: Disiplin, Kunci dari Segalanya

Hari-hari pertama kepemimpinan Spei langsung diwarnai ketegasan. Kantor-kantor pemerintah yang selama ini lesu mulai bergeliat. Pegawai negeri yang terbiasa datang siang dan pulang cepat kini dihitung absennya. Spei tak segan mengambil tindakan keras.

“Gaji tidak akan dibayarkan jika kantor kosong. Tidak ada pengecualian. Ini uang rakyat, bukan untuk dibuang sia-sia,” tegasnya saat meninjau kehadiran ASN, pada 17 Februari 2025.

Spei juga melantik kepala-kepala OPD dan distrik yang baru. Namun kali ini, pelantikan bukan sekadar seremonial.

“Kalian dilantik hari ini bukan untuk mencari aman. Saya beri waktu. Jika kalian tidak kerja, akan saya copot,” ujar Spei dengan mata tajam, 11 Maret 2025.

Babak II: Infrastruktur, Patahkan Isolasi

Pegunungan Bintang adalah tanah tinggi yang kerap disebut “kabupaten langit”. Tapi kemegahan alam itu sering menjadi kutukan: keterisoliran. Spei tahu, tanpa infrastruktur, rakyat hanya bisa bermimpi.

Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana ST., M.Si.
Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana ST., M.Si.

“Kita butuh jembatan bukan hanya untuk menyambung jalan, tapi untuk menyambung hidup,” ucapnya saat meninjau pembangunan Jembatan Diguel, 8 Maret 2025.

Jembatan Diguel adalah simbol awal dari ambisi besar Spei. Proyek-proyek akses jalan dan penguatan konektivitas antar distrik menjadi prioritas utama.

Di dunia pendidikan, Spei meninjau langsung progres pembangunan Kampus Okmin Papua yang telah mencapai 80%.

“Pendidikan adalah jantung perubahan. Kampus ini akan menjadi tempat anak-anak Pegubin bermimpi lebih tinggi,” katanya dalam kunjungan lapangan, 8 Maret 2025.

Babak III: Rakyat Kenyang, Petani Sejahtera

Ketika Presiden Prabowo meluncurkan program Makan Bergizi Gratis, Pegubin langsung jadi pelaksana awal. Namun Spei tak sekadar menyalurkan makanan, Ia menciptakan rantai ekonomi lokal.

“Beras dari Oksop, sayur dari Kalomdol, ayam dari Borme. Kita beli dari rakyat kita sendiri. Petani untung, anak sekolah kenyang,” tegas Spei dalam rapat koordinasi program gizi, 11 Maret 2025.

Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, ST,M.Si saat melihat bawang merah yang diproduksi para petani di Distrik Oklip.
Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, ST,M.Si saat melihat bawang merah yang diproduksi para petani di Distrik Oklip.

Lebih dari itu, Spei meluncurkan inisiatif pembangunan Sentra Pertanian Modern Terpadu.

“Saya ingin tiap petani punya masa depan. Kita ubah kebun jadi industri,” ujarnya.

Babak IV: Gempur Penyakit Sosial, Selamatkan Generasi

Namun Spei menyadari, pembangunan fisik tidak akan berarti tanpa revolusi moral. Kota Oksibil selama ini dicemari praktik miras, perjudian, dan penyakit sosial lainnya. Maka dimulailah operasi pemberantasan besar-besaran.

“Dalam beberapa hari ke depan, Oksibil harus bersih. Bersih dari penyakit sosial, bersih dari kemalasan. Generasi kita harus selamat,” kata Spei saat menggelar apel aparat keamanan dan OPD, 22 April 2025.

Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST., M.Si, saat konferensi pers yang digelar di ruang tunggu Bandara Oksibil.
Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST., M.Si, saat konferensi pers yang digelar di ruang tunggu Bandara Oksibil.

Ratusan aparat dikerahkan. Puluhan pelaku dipulangkan ke daerah asal. Oksibil, untuk pertama kalinya dalam sejarah, mulai bersih dari malam-malam mabuk dan suara musik keras yang membelah subuh.

“Kalau kita biarkan anak-anak kita tumbuh dalam miras dan kekerasan, kita bukan pemimpin. Kita pengkhianat,” ucap Spei, penuh emosi.

Babak V: Kebangkitan Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Puncak dari seratus hari kerja Spei adalah perayaan HUT ke-22 Kabupaten Pegubin pada 12 April 2025. Tapi ini bukan sekadar pesta ulang tahun, ini adalah deklarasi kebangkitan peradaban.

“Hari ini, kita rayakan budaya, kita rayakan ilmu, kita rayakan kebangkitan Pegubin,” kata Spei dalam pidatonya yang menggetarkan.

Bupati Spei Yan Bidana, ST,M.Si didampingi Wakil Bupati Arnold Nam, S.AP, Ketua TP PKK Susana Maria Apaseray, S.IP dan Wakil Ketua TP PKK Novel Trukna saat memotong kue Ulang Tahun Kabupaten Pegubin ke-22 di halaman Kantor Bupati Pegunungan Bintang, Sabtu, (12/04/2025).
Bupati Spei Yan Bidana, ST,M.Si didampingi Wakil Bupati Arnold Nam, S.AP, Ketua TP PKK Susana Maria Apaseray, S.IP dan Wakil Ketua TP PKK Novel Trukna saat memotong kue Ulang Tahun Kabupaten Pegubin ke-22 di halaman Kantor Bupati Pegunungan Bintang, Sabtu, (12/04/2025).

Hari itu, kerja sama internasional bidang pendidikan diresmikan. Asrama yayasan pendidikan dibuka. Dan yang paling menyentuh: 3.000 anak Pegubin menerima beasiswa senilai Rp 34 miliar.

“Anak Pegubin harus sekolah setinggi langit. Biar dunia tahu, dari langit Papua lahir pemimpin masa depan,” katanya dengan suara bergetar.

Babak VI: Kesehatan, Lingkungan, dan Masa Depan

Spei juga menaruh perhatian pada sektor kesehatan dan lingkungan. Ia meninjau langsung RSUD Oksibil dan memperingatkan manajemen agar meningkatkan layanan.

“Orang sakit tidak bisa menunggu. Jangan biarkan mereka mati hanya karena obat kosong,” tegasnya, 15 Maret 2025.

Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST, M.Si, saat mengunjungi Puskesmas Okaom pada Jumat (28/3/2025).
Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST, M.Si, saat mengunjungi Puskesmas Okaom pada Jumat (28/3/2025).

Di bidang lingkungan, ia menegaskan kawasan hutan lindung harus dijaga ketat.

“Tanah ini suci. Jangan gadaikan hutan demi emas yang semu,” katanya dalam peringatan Hari Hutan Internasional, 21 Maret 2025.

Epilog: Seratus Hari Bukan Akhir, Tapi Awal dari Sebuah Gerakan

Apa yang dilakukan Spei Yan Bidana dalam seratus hari bukanlah keajaiban. Tapi ia telah menunjukkan bahwa niat tulus, keberanian, dan disiplin bisa memulai revolusi. Di tanah yang sering disebut tertinggal ini, justru cahaya perubahan menyala paling terang.

“Saya tidak janji Pegubin langsung jadi Jakarta. Tapi saya janji, anak Pegubin bisa punya masa depan yang lebih cerah dari siapa pun. Kita hanya perlu bersatu,” katanya.

Kini, Pegunungan Bintang bukan lagi cerita tentang keterisolasian. Ia adalah kisah kebangkitan. Dan Spei Yan Bidana, adalah nakhoda yang menyalakan obor di tengah malam dan menunjukkan, bahwa fajar sudah dekat.

100 hari bukan sekadar waktu. Ia adalah bukti. Bukti bahwa dari tanah awan, Pegunungan Bintang bisa menjulang, dan bersinar seperti bintang yang tak pernah padam.

Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST., M.Si dan Wakil Bupati Arnold Nam.
Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST., M.Si dan Wakil Bupati Arnold Nam.

Apa yang dilakukan Bupati Spei dalam 100 hari mungkin belum meratakan jalan ke setiap kampung, tapi telah membuka jalan besar dalam hati rakyat, jalan menuju harapan.

Dalam gebrakan demi gebrakan, satu hal tampak jelas, Pegunungan Bintang bukan lagi daerah sunyi yang tertinggal. Ia sedang bangkit. Dari kedisiplinan hingga pembangunan, dari budaya hingga beasiswa, dari petani hingga ASN, semua dipanggil untuk bergerak bersama.

“Kalau kita mau maju, kita harus tinggalkan ego, tinggalkan malas, dan kerja bersama. Saya tidak bisa kerja sendiri. Tapi kalau kita kompak, langit pun bisa kita sentuh,” pungkas Bupati Spei saat momen perayaan HUT Pegubin.

Dari Pegunungan Bintang, Timur Indonesia memanggil. Seratus hari telah menanam akar. Kini saatnya pohon perubahan tumbuh kokoh dan menaungi generasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!