Menapaki Jejak Peradaban Animha: Aspirasi Infrastruktur, Penguatan SDM, dan Penjagaan Jati Diri Malind

Wakil Ketua III DPRP Papua Selatan, Joseph Albin Gebze.

BATASPAPUA.COM, MERAUKE –  Distrik Animha di Kabupaten Merauke kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat peradaban penting di Papua Selatan. Kunjungan kerja (reses) jajaran DPR Provinsi Papua Selatan ke wilayah ini tidak hanya menyerap aspirasi pembangunan, tetapi juga membuka kembali ruang refleksi tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah percepatan pembangunan.

Wakil Ketua III DPRP Papua Selatan, Joseph Albin Gebze, dalam wawancara eksklusif mengungkapkan bahwa Distrik Animha menyimpan potensi besar yang harus ditata secara bijak dan berkelanjutan baik dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, maupun pelestarian nilai-nilai adat Malind.

Secara geografis, Distrik Animha memiliki akses yang relatif dekat dari ibu kota provinsi di Salor, dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Namun di balik kedekatan tersebut, tantangan infrastruktur masih menjadi persoalan utama, terutama pada akses jalan dan jembatan penghubung antar kampung.

“Pembangunan jalan memang sudah berjalan, tetapi masih terdapat titik-titik yang terputus, khususnya menuju ibu kota distrik. Di Kampung Wayau, akses jalan belum tersambung dengan baik,” jelas Joseph.

Kondisi ini mendorong masyarakat untuk bergerak secara mandiri. Semangat gotong royong terlihat dari inisiatif warga membangun jembatan sederhana yang dikenal sebagai “Jembatan Pemukim” demi menjaga mobilitas dan distribusi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak tinggal diam, namun membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah agar pembangunan infrastruktur dapat terwujud secara merata dan berkelanjutan.

Selain infrastruktur, perhatian juga tertuju pada pengembangan sumber daya manusia. Masyarakat Malind di Animha dikenal memiliki postur tubuh yang kuat dan potensi fisik yang sangat mendukung untuk pengembangan di bidang olahraga.

“Bakat atlet di sini sangat banyak, tetapi belum dibina secara berkelanjutan. Perhatian sering kali hanya muncul saat ada event, bukan sebagai program jangka panjang,” ungkap Joseph.

Tak hanya olahraga, sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi juga menjadi perhatian penting. Wilayah Animha yang luas—meliputi Wapeko, Wayau, Senegi, Koa, hingga Kaisa menyimpan peluang besar untuk pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.

Joseph mendorong adanya program pelatihan keterampilan dan kewirausahaan agar masyarakat lokal mampu mandiri secara ekonomi.

“Kami ingin anak-anak asli Animha tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku utama—membuka usaha, menciptakan peluang, dan berdiri di atas tanahnya sendiri,” tegasnya.

Animha: “Manusia Sejati” dan Penjaga Warisan Peradaban

Lebih dari sekadar wilayah administratif, Animha memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam sejarah adat Malind, Animha berarti “Manusia Sejati” sebuah identitas yang mencerminkan nilai-nilai luhur, kearifan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Distrik ini merupakan wilayah adat golongan Sosok yang terdiri dari lima kampung utama: Koa, Kaisa, Senegi, Wayau, dan Bat. Kampung Bat memiliki posisi penting sebagai benteng dan pusat Kerajaan Malind Sossom, tempat para pemimpin adat bermukim pada masa lampau.

“Kami tidak ingin siklus sejarah terulang. Dulu, ketika Merauke berkembang, pusat peradaban lama justru terabaikan. Sekarang, dengan pembangunan di Salor sebagai ibu kota provinsi, kami berharap nilai-nilai adat dan tempat sakral tetap dijaga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan pendekatan kultural, sehingga modernisasi tidak menghapus identitas masyarakat adat.

Di tengah masuknya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mulai menyentuh wilayah Animha, Joseph melihat peluang besar untuk kemajuan daerah. Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada fisik, melainkan juga harus menguatkan manusia dan budayanya.

“Pembangunan harus memanusiakan manusia. Jika budaya ditinggalkan, maka kita akan kehilangan jati diri,” tegasnya.

Kunjungan DPRP Papua Selatan disambut dengan penuh kehangatan oleh masyarakat Animha. Nuansa kekeluargaan dan sukacita terasa kuat sepanjang kegiatan berlangsung.

Sebagai ungkapan rasa syukur, masyarakat menggelar pesta adat dengan tarian tradisional dan ritual budaya yang sarat makna. Momen ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga simbol harapan agar perhatian pemerintah terus hadir secara berkelanjutan.

Kehadiran wakil rakyat di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa pembangunan di Papua Selatan tidak hanya berbicara tentang angka dan proyek, tetapi juga tentang mendengar, memahami, dan menjaga warisan leluhur.

Distrik Animha hari ini bukan hanya tentang pembangunan yang sedang berjalan, tetapi tentang bagaimana masa depan dibangun tanpa melupakan akar. Di tanah “Manusia Sejati” ini, harapan tumbuh seiring langkah menjaga budaya dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakatnya.

Penulis: Anton Bambang
Editor: Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!