Lucky Dube Band Mengguncang Jayapura, Bendera Bintang Kejora Berkibar Jadi Viral

Ilustrasi Konser perdana Lucky Dube Band di Kota Jayapura, Papua (AI).

BATASPAPUA.COM, JAYAPURA – Konser perdana Lucky Dube Band di Papua yang digelar di Lapangan PTC Karang Entrop, Rabu (3/12/2025), berlangsung meriah namun diwarnai insiden pengibaran bendera Bintang Kejora di tengah kerumunan penonton. Ribuan pecinta musik reggae yang sejak sore memadati lokasi konser sempat dibuat kaget ketika dua lembar bendera itu berkibar di atas lautan manusia.

Momen tersebut terjadi saat para personel band asal Afrika Selatan melantunkan lagu-lagu bernuansa kebebasan dan hak asasi manusia yang pernah dibawakan almarhum Lucky Dube. Tayangan langsung di media sosial memperlihatkan kerumunan bersorak ketika bendera-bendera itu dikibarkan, bersamaan dengan sejumlah bendera negara lain yang juga terlihat di area penonton.

Panggung konser yang ditata apik dengan permainan lampu warna-warni dan tata suara menggelegar awalnya membawa suasana hangat dan penuh antusiasme. Namun insiden pengibaran bendera memicu perhatian aparat keamanan dan panitia penyelenggara.

Kapolsek Jayapura Selatan, AKP Lalang, ketika dikonfirmasi, mengakui bahwa pihaknya melihat adanya bendera Bintang Kejora di tengah kerumunan.

“Penonton terlalu banyak, padat sekali, tapi kami monitor,” ujarnya dikutip dari Ceposonline.com.

Ia menyebut sulit mengidentifikasi siapa yang membawa dan mengibarkan bendera tersebut karena berada jauh di tengah kerumunan. “Nanti dilanjut ya, saya terima telepon dulu,” ucapnya sebelum menutup percakapan.

Konser bertajuk “Lucky Dube Band – Live in Jayapura (From Africa to the World)” tersebut awalnya dijadwalkan berlangsung hingga pukul 22.00 WIT, namun aparat keamanan meminta agar acara dihentikan pada pukul 21.43 WIT, atau lebih cepat dari jadwal.

Hampir 43 menit penampilan band dihiasi atmosfer kampanye simbolik melalui lirik-lirik bertema perjuangan, kebebasan, dan kemanusiaan. Saat suasana semakin memanas setelah bendera berkibar, aparat kemudian berkoordinasi dengan panitia untuk mengakhiri konser demi alasan keamanan.

Salah satu penyanyi tunggal yang tampil bahkan menyampaikan pesan solidaritas bernuansa hak asasi manusia, salah satunya melalui kutipan, “If the law of Papua and the humanity… They say you die and I will die. And they say you stop to talk and sing about the rights, I will stop.” Kalimat itu memantik sorak dan respons emosional dari sebagian penonton.

Suguhan konser ini memang telah lama dinanti. Sejak pukul 15.00 WIT, kawasan Lapangan PTC Karang Sentrum sudah dipenuhi warga dari berbagai penjuru Jayapura. Dentuman bass reggae mulai mengguncang panggung pada pukul 19.00 WIT, menghidupkan kembali nuansa musikal sang legenda Lucky Dube dalam balutan suara khas Afrika Selatan yang berpadu dengan sahutan tifa dari kejauhan.

Lagu-lagu abadi seperti Prisoner, Remember Me, It’s Not Easy, dan Together as One membawa suasana penuh nostalgia dan euforia. Bagi banyak penonton, malam itu terasa seperti perayaan musik dan identitas yang telah lama dirindukan.

Meski konser berlangsung singkat, momen pengibaran Bintang Kejora menjadikan acara tersebut segera viral di media sosial. Foto dan video terus menyebar, mengundang komentar publik dan menambah panjang diskusi tentang konser yang sejak awal penuh energi kebersamaan namun berakhir dengan simbol-simbol yang memancing perhatian.

Bagi sebagian orang, malam itu bukan sekadar konser reggae, melainkan pertemuan antara musik, identitas, dan harapan dalam suasana yang penuh emosi dan simbolisme. (AL/ADM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!