31 Desember 2026 Diprediksi Terjadi Lagi Gerhana Bulan. Apa itu Gerhana Bulan?

Gerhana Bulan Total hari ini, Selasa 3 Maret 2026 (Blood Moon) tampak terlihat di langit Merauke, Papua Selatan. Foto: Jho Papsel

BATASPAPUA.COM – Fenomena gerhana bulan kembali menyapa langit Indonesia. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada Selasa (3/3/2026) terjadi Gerhana Bulan Total yang dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia dengan syarat cuaca cerah.

Apa Itu Gerhana Bulan?

Gerhana bulan merupakan fenomena astronomi yang terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan dalam satu garis lurus. Posisi ini membuat cahaya Matahari menuju Bulan terhalang oleh Bumi, sehingga bayangan Bumi baik umbra (bayangan inti) maupun penumbra (bayangan samar) menutupi permukaan Bulan.

Peristiwa ini hanya terjadi saat fase Bulan Purnama.

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 (Blood Moon)

Gerhana yang terjadi hari ini merupakan Gerhana Bulan Total, di mana seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

Puncak Gerhana: Pukul 18.03 WIB
Karakteristik: Bulan tampak berwarna kemerahan atau dikenal sebagai Blood Moon.

Warna merah tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Cahaya berwarna biru tersebar, sementara cahaya merah dibiaskan dan mencapai permukaan Bulan.

Fenomena ini dapat disaksikan dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua, selama kondisi langit tidak tertutup awan.

BMKG juga mencatat bahwa Gerhana Bulan Total berikutnya diprediksi terjadi pada 31 Desember 2026. Menariknya, gerhana ini akan bertepatan dengan malam pergantian tahun, sehingga berpotensi menjadi fenomena langit yang istimewa menjelang Tahun Baru 2027.

Jenis-Jenis Gerhana Bulan:

Gerhana Bulan Total
Seluruh bagian Bulan masuk ke umbra Bumi, membuat Bulan tampak merah pekat.

Gerhana Bulan Sebagian (Parsial)
Hanya sebagian permukaan Bulan yang tertutup bayangan inti Bumi.

Gerhana Bulan Penumbra
Bulan hanya melewati bayangan samar (penumbra), sehingga tampak sedikit lebih redup dari biasanya.

Imbauan Pengamatan

Gerhana bulan aman disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus. Namun, penggunaan teropong atau teleskop dapat memberikan pengalaman pengamatan yang lebih detail.

Fenomena ini menjadi momen edukatif sekaligus pengingat akan keteraturan sistem tata surya yang terus berlangsung secara presisi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!