Bukan Salju! Hujan Es Turun Menutupi 3 Distrik di Lanny Jaya, Warga Alami Krisis Pangan
BATASPAPUA.COM, LANNY JAYA — Fenomena hujan es melanda tiga distrik di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, sejak Minggu (16/8/2026). Butiran es menutupi permukiman, pekarangan hingga lahan pertanian warga, membuat sejumlah wilayah tampak seperti diselimuti salju.
Fenomena yang terekam dalam sejumlah video dan beredar luas di media sosial itu terjadi di Distrik Kuyawage, Goa Baliem (Gowaloem), dan Wano Barat. Namun, di balik pemandangan yang terlihat unik tersebut, terdapat ancaman serius terhadap ketahanan pangan masyarakat yang kini menjadi perhatian pemerintah daerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wamena menjelaskan, hujan es dipicu pertumbuhan awan konvektif yang signifikan akibat interaksi kondisi atmosfer regional dan lokal. Topografi pegunungan Lanny Jaya turut memperkuat proses pengangkatan udara hingga memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus.
Berdasarkan pengamatan satelit Himawari-9, terdapat awan konvektif dengan suhu puncak sangat rendah. Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya arus udara naik atau updraft yang kuat, sehingga partikel es dapat tumbuh di dalam awan sebelum akhirnya jatuh ke permukaan sebagai hujan es.
Namun, bagi masyarakat di kawasan pegunungan, persoalannya bukan sekadar fenomena cuaca. Hujan es tersebut dilaporkan merusak tanaman pertanian dan membuat sebagian hasil kebun warga tidak dapat dipanen.
Kondisi ini menjadi alarm serius bagi Distrik Kuyawage dan wilayah sekitarnya. Kawasan tersebut memiliki sejarah panjang menghadapi fenomena embun beku yang muncul ketika musim kemarau ekstrem menyebabkan suhu malam hingga dini hari turun drastis.
Embun beku bukan fenomena baru di Kuyawage. Pada 1998, kejadian serupa tercatat sebagai salah satu yang terparah dan dikaitkan dengan krisis pangan yang menyebabkan korban jiwa. Fenomena kembali terjadi pada 2015 dan meluas ke sejumlah wilayah pegunungan tengah Papua.
Pada 2022, embun beku kembali melanda sejak awal Juni hingga Juli. Saat itu, 56 titik lahan pertanian terdampak, sekitar 548 kepala keluarga atau 2.740 jiwa ikut terdampak, empat orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami sakit. Pemerintah kemudian menetapkan status tanggap darurat.
Ancaman yang sama kini kembali membayangi. Kerusakan tanaman akibat suhu ekstrem maupun hujan es berpotensi mengganggu sumber pangan utama masyarakat, terutama tanaman ubi jalar dan sayuran.
Pemkab Lanny Jaya Bergerak
Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya tidak ingin dampak bencana kali ini berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Bupati Lanny Jaya Aletinus Yigibalom langsung memerintahkan pembentukan Tim Tanggap Darurat setelah menerima laporan masyarakat mengenai kejadian hujan es pada 16 Agustus 2026.
“Kami menerima laporan masyarakat adanya bencana hujan es, sehingga saya minta pimpinan OPD harus segera dikumpulkan data sebagai dasar kebijakan penanggulangan,” kata Aletinus dalam siaran pers di Jayapura, Kamis.
Tim tersebut dipimpin Asisten II Sekretariat Daerah Lanny Jaya dan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.
Tim diminta melakukan pendataan secara rinci terhadap kerusakan lahan pertanian, berkoordinasi dengan berbagai pihak, serta menyiapkan langkah penanganan baik untuk kebutuhan mendesak maupun pemulihan jangka panjang.
“Karena dampak hujan ini berbeda dari sebelumnya, bukan sekadar embun beku, tetapi menghancurkan tanaman hingga tidak bisa dipanen,” ujar Aletinus.
Menurutnya, kerusakan pertanian kali ini berpotensi mempengaruhi ketahanan pangan masyarakat hingga satu tahun ke depan. Karena itu, Pemkab Lanny Jaya meminta dukungan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Pusat melalui BNPB serta Kementerian Sosial.
“Tanaman rusak, pertanian gagal panen. Oleh karena itu, kami memerlukan dukungan penuh dari provinsi dan pusat. Tim harus bekerja cepat, tepat, dan melaporkan hasilnya secara berjenjang,” tegasnya.
Fenomena ini sekaligus menjadi peringatan bahwa masyarakat di wilayah pegunungan harus memiliki kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Bantuan pemerintah tetap penting, tetapi keterbatasan geografis dan akses transportasi membuat bantuan tidak selalu dapat tiba dengan cepat.
Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat untuk menghadapi ancaman embun beku, hujan es, kekeringan dan gagal panen menjadi kebutuhan mendesak. Kesiapsiagaan di tingkat kampung dan keluarga dapat menjadi penyangga awal sebelum bantuan dari pemerintah tiba.
Di tengah pemandangan Lanny Jaya yang mendadak memutih, ancaman sebenarnya justru berada di balik lapisan es tersebut: lahan pertanian rusak, pangan terancam, dan masyarakat pegunungan kembali menghadapi ujian ketahanan hidup. (*)










Tinggalkan Balasan