BATASPAPUA.COM, OKSIBIL – Dari sebuah kampus di jantung Pegunungan Bintang, suara besar tentang masa depan menggema. Di tengah prosesi Yudisium yang meluluskan 246 mahasiswa, Pendiri Universitas Okmin Papua yang juga Bupati Kabupten Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, melontarkan ambisi yang melampaui batas geografis dengan menjadikan universitas di wilayah perbatasan ini sebagai pusat kajian linguistik dan kebudayaan Melanesia yang diakui dunia dalam 20 tahun ke depan.
Di hadapan ratusan lulusan dan tamu undangan di Kampus Universitas Okmin Papua, Jalan Serambakon, Oksibil, Selasa (31/03/2026), Spei menyampaikan optimisme yang tidak biasa, bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk menembus panggung global.
“Kita tidak perlu menunggu 100 tahun. Dalam 20 tahun ke depan, universitas ini harus sudah menyentuh dunia internasional,” tegasnya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Di balik ambisi itu, telah disusun langkah-langkah strategis yang mulai dijalankan secara bertahap. Universitas Okmin Papua kini membuka seleksi dosen secara nasional guna menjaring sumber daya manusia terbaik, sekaligus mengirim lima tenaga pengajar untuk melanjutkan studi magister (S2).
Langkah ini, menurut Spei, menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas akademik yang mampu bersaing secara global.
246 mahasiswa Universitas Okmin Papua (UOP) ikuti Yudisium perdana pada Selasa (31/3/2026), di halaman kampus baru UOP, Esipding, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
“Kita sedang menyiapkan SDM unggul. Tanpa itu, mimpi besar ini tidak akan tercapai. Karena itu, investasi utama kita adalah pada kualitas dosen dan penelitian,” ujarnya.
Tidak hanya memperkuat internal kampus, Universitas Okmin Papua juga mulai membuka diri terhadap dunia luar. Upaya kerja sama internasional kini tengah digalakkan, dengan rencana kunjungan delegasi dari Australia dalam waktu dekat.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga dalam pengembangan ekonomi kawasan perbatasan.
“Kami sedang membangun komunikasi dengan mitra internasional. Bulan depan, dari Australia akan datang untuk membahas konektivitas ekonomi dan kerja sama pendidikan. Ini langkah awal menuju jejaring global,” kata Spei.
Ia menegaskan, kerja sama ini bukan hanya simbolis, melainkan harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.
246 mahasiswa Universitas Okmin Papua (UOP) ikuti Yudisium perdana pada Selasa (31/3/2026), di halaman kampus baru UOP, Esipding, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
“Kita ingin mahasiswa kita punya akses ke dunia luar, bisa belajar, meneliti, dan kembali membangun daerahnya dengan perspektif global,” tambahnya.
Sejalan dengan visi tersebut, Universitas Okmin Papua juga merancang pengembangan akademik yang berorientasi masa depan. Sejumlah program studi strategis akan segera dibuka, mulai dari Ilmu Pemerintahan, Kedokteran, Keperawatan, hingga Sastra Indonesia dan Bahasa Lokal.
Yang tak kalah penting, kampus ini juga menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama pengembangan keilmuan, salah satunya melalui rencana pembentukan pusat kajian musik Melanesia.
“Kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Musik Melanesia punya karakter yang unik dan belum banyak diteliti. Melalui pusat kajian ini, kita ingin mengangkatnya ke tingkat internasional,” jelas Spei.
Yudisium tahun ini sendiri menjadi tonggak penting perjalanan universitas, dengan 246 mahasiswa dari Fakultas Antropologi dan Sosial Sains (FASS) serta Fakultas Sains Matematika dan Agroteknologi (FSMA) resmi menyelesaikan studi mereka.
Namun lebih dari sekadar seremoni kelulusan, momentum ini menjadi penanda arah baru bahwa dari Oksibil, sebuah universitas di wilayah perbatasan tengah menyiapkan diri untuk berbicara di panggung dunia.
Dengan visi yang tegas, strategi yang terukur, serta jejaring kerja sama yang mulai dibangun lintas negara, Universitas Okmin Papua menatap masa depan sebagai pusat pengetahuan dan kebudayaan Melanesia yang tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga diperhitungkan secara global. (Ino)*
Tinggalkan Balasan