Satu Kaki Dengan Seribu Tekad: Kisah Deki Degei, Siswa Disabilitas Asal Nabire yang Menginspirasi

Namun perlahan, Deki bangkit. Dukungan keluarga serta lingkungan pendidikan yang memberi ruang dan kepercayaan, menjadi faktor penting dalam proses itu. Ia tidak hanya belajar menerima kondisinya, tetapi juga membangun kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.

Ia menemukan jati dirinya sebagai pribadi yang tidak perlu dikasihani, tetapi dihormati. Sebagai individu yang mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.

Pihak sekolah pun memilih untuk tidak membatasi langkahnya. Ketika Deki mengatakan mampu melakukan sesuatu, mereka memberi kepercayaan penuh.

“Kita memang prihatin, tapi kalau dia sendiri bilang bisa, masa kita ragu,” kata Jon.

Kepercayaan itulah yang kemudian membentuk Deki menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan penuh inisiatif. Ia tumbuh bukan dalam ruang keterbatasan, melainkan dalam kesempatan yang terbuka.

Momen saat Deki memimpin upacara Hardiknas menjadi puncak dari perjalanan panjang tersebut. Itu bukan sekadar penugasan, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas dan karakter yang telah ia bangun.

Lebih dari itu, momen tersebut menjadi pesan yang kuat tentang makna pendidikan. Bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi tentang membentuk manusia yang tangguh, berani, dan mampu melampaui batas dirinya sendiri.

Di Nabire, pada pagi yang tenang itu, Deki Degei tidak hanya berdiri sebagai pemimpin upacara. Ia berdiri sebagai simbol harapan bahwa di tengah segala keterbatasan, selalu ada ruang untuk tumbuh, berjuang, dan membuktikan bahwa manusia memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada apa yang terlihat.

Dan dari satu kaki yang menopangnya, Deki menunjukkan bahwa keteguhan hati mampu menegakkan mimpi, bahkan dalam kondisi yang paling tidak sempurna sekalipun.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!