Satu Kaki Dengan Seribu Tekad: Kisah Deki Degei, Siswa Disabilitas Asal Nabire yang Menginspirasi
Di asrama, Deki menjalani rutinitas harian dengan disiplin yang sama seperti siswa lain. Ia mengikuti kegiatan belajar, mengerjakan tugas, hingga menjalankan pekerjaan harian yang menjadi bagian dari pembentukan karakter di sekolah tersebut. Tidak ada pengecualian, dan Deki tidak pernah menginginkannya.
Justru dalam banyak hal, ia tampil menonjol. Dalam pekerjaan fisik, misalnya, Deki tetap terlibat aktif. Ia mendorong gerobak berisi batu dan pasir, melakukan pekerjaan yang bagi sebagian orang dengan kondisi fisik normal pun tidak ringan. Semua itu dilakukan hanya dengan satu kaki.
“Kerja praktis di sekolah bahkan di asrama, semua dia lakukan seperti siswa lain. Dia dorong gerobak dengan batu dan pasir, dengan satu kaki,” kata Jon.
Di bidang olahraga, Deki juga menunjukkan semangat yang sama. Ia bermain sepak bola dan bola voli bersama teman-temannya. Tidak ada rasa canggung, tidak ada jarak. Ia berbaur, bergerak, dan bersaing seperti siswa lainnya.
Namun kekuatan terbesar Deki bukan hanya pada kemampuannya beradaptasi secara fisik, melainkan pada mentalnya yang kokoh. Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak menjadikan keterbatasannya sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.
“Karakter dia sangat kuat. Kami tidak pernah dengar dia mengeluh. Dia juga mudah bergaul, periang, dan tidak menutup diri,” ujar Jon.
Di balik keteguhan itu, tersimpan perjalanan hidup yang penuh tantangan. Deki tidak terlahir dengan keterbatasan. Ia kehilangan satu kakinya akibat kecelakaan saat masih berusia sekitar enam tahun—usia di mana seorang anak seharusnya sedang menikmati masa bermain tanpa beban.
Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia harus belajar ulang banyak hal berjalan, bergerak, bahkan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang tidak selalu ramah.
Masa-masa awal itu menjadi fase paling sulit. Selain menghadapi keterbatasan fisik, Deki juga harus berhadapan dengan kemungkinan ejekan dan stigma dari lingkungan sekitar.
“Di awal itu semua terasa berat. Dia harus berjuang untuk bisa beraktivitas dengan satu kaki, sementara di sisi lain juga bisa saja menghadapi hinaan,” ungkap Jon.










Tinggalkan Balasan