Pemuda Katolik Papua Barat Daya: Tambang Nikel di Raja Ampat Adalah Kedurhakaan terhadap Ibu Bumi
BATASPAPUA.COM Sorong — Pemuda Katolik Komisariat Daerah Papua Barat Daya menyampaikan sikap tegas menolak keberadaan tambang nikel di wilayah Raja Ampat. Dalam pernyataan resminya, organisasi ini menyebut aktivitas pertambangan tersebut sebagai bentuk “kedurhakaan terhadap Ibu Bumi” yang mengancam ruang hidup masyarakat adat dan merusak ekosistem salah satu wilayah paling kaya keanekaragaman hayati di dunia.
Ketua Pemuda Katolik Papua Barat Daya, Yoseph Metodius Baru, menyatakan bahwa proyek-proyek ekstraktif di Raja Ampat merupakan wujud nyata dari kolonialisme gaya baru yang mengatasnamakan pembangunan, namun pada hakikatnya mengeksploitasi tanah dan merampas hak masyarakat.
“Surga yang Tuhan titipkan di Raja Ampat tidak boleh diubah menjadi neraka industri. Tambang nikel hanya akan meninggalkan jejak kehancuran—merusak tanah adat, menghancurkan alam, dan memutus urat nadi budaya Papua,” tegas Yoseph.
Ia juga mengkritik keras para pengambil kebijakan, termasuk pejabat asal Papua yang kini duduk di kursi kekuasaan.
“Jangan karena kekuasaan dan kenyamanan, kita mengorbankan tanah leluhur sendiri. Menteri yang berasal dari Papua seharusnya menjadi penjaga tanah ini, bukan menjadi perpanjangan tangan kepentingan korporasi,” ujarnya.
Penolakan ini muncul di tengah sorotan tajam publik terhadap proyek pertambangan nikel di Raja Ampat, menyusul aksi protes Greenpeace Indonesia dan seorang perempuan Papua dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo di Jakarta, 3 Juni lalu. Aksi tersebut dengan jelas menunjukkan kekecewaan rakyat Papua terhadap arah pembangunan yang menyingkirkan prinsip keadilan ekologis.
Pemuda Katolik menyebut bahwa dalih pembangunan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan hak hidup manusia dan keberlanjutan lingkungan.
“Negara ini tidak kekurangan nikel, tapi kekurangan nurani. Jika pembangunan berarti menghancurkan rumah rakyat, itu bukan kemajuan—itu kejahatan ekologis yang dilegalkan,” tambah Yoseph.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual, Pemuda Katolik Papua Barat Daya menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar segera menghentikan seluruh rencana dan aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat.
“Papua bukan tanah kosong untuk dijual ke investor. Ini adalah rumah kami, tanah keramat yang diwariskan leluhur. Hentikan eksploitasi ini sebelum terlambat,” pungkas Yoseph dengan suara yang menggugah. (ADM)










Tinggalkan Balasan