MRP Papsel Minta PT.GPA Sampaikan Jumlah Tenaga Kerja OAP ke Publik. Joko Mulyono: Belum Bisa, Masih Pertimbangan
BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan meminta penjelasan kepada perusahaan perkebunan tebu PT.Global Papua Abadi (GPA) terkait jumlah tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP) yang dipekerjakan di perusahaan tersebut, namun sayangnya pihak perusahaan yang berpusat di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan itu tidak bersedia menyampaikan hal itu ke publik dengan alasan tertentu.
“Pertemuan ini kami mengundang pihak perusahaan PT.GPA karena ada aspirasi dari masyarakat kami orang asli yang mengalami sejumlah kendala seperti status mereka yang sampai saat ini 2 tahun berjalan hanya sebagai pekerja harian lepas, proses lamaran yang dinilai menyulitkan orang asli dan adanya training singkat,” ucap Ketua MRP Papua Selatan, Damianus Katayu, dalam rapat dengar pendapat MRP Papua Selatan bersama PT.GPA dan perwakilan pencari kerja orang asli Papua di Merauke. Rabu (29/4/2026).

Aspirasi yang disampaikan masyarakat asli Papua merupakan hal penting yang segera dilakukan penyelesaian, sehingga langkah-langkah strategis harus dikoordinasikan antara pihak perusahaan, masyarakat asli papua dan pemerintah serta MRP sebab perusahaan hadir di Merauke dalam rangka menjalankan Program Strategis Nasional (PSN).
“Harus kita melihat bagaimana saudara-saudara kita sedang berjuang meningkatkan kesejahteraan. Pada saat musrenbang kemarin saya mencatat adanya peningkatan ekonomi dan juga peningkatan kemiskinan, ini yang masih jadi pertanyaan ekonomi siapa yang meningkat dan kemiskinan siapa yang meningkat. Biasanya dalam grafik ekonomi meningkat kemiskinan menurun, tapi yang terjadi sekarang dua-duanya meningkat,” tutur ketua.
Persoalan pencari kerja bukan hanya tanggungjawab pemerintah namun juga ada keterlibatan pihak ke tiga. MRP sendiri telah memberikan banyak rekomendasi ke PT.GPA namun sampai saat ini MRP sendiri belum diberitahu proses penerimaan tanaga kerja di perusahaan tersebut seperti apa.
“Banyak saudara-saudara kita Papua melamar dan banyak juga yang tidak diterima, perekrutan sistem online banyak diterima namun sistem offline yang diiukuti saudara kita Papua banyak juga diabaikan,” jelas Damianus.
Tidak hanya itu. ketua MRP juga meminta penjelasan pihak PT.GPA terkait aspirasi masyarakat papua soal training atau pelatihan yang diberikan kepada pekerja asli papua yang hanya dilakukan 3 hari.
Menanggapi hal itu, Direktur PT Global Papua Abadi, Joko Herma Pramulyo, menjelaskan pihaknya tidak dapat menyampaikan jumlah orang asli Papua yang dipekerjakan di PT.GPA dengan alasan beberapa pertimbangan.
“Terkait berapa jumlah orang asli papua yang bekerja dan diposisi apa, kami terus terang belum bisa menyampaikan itu secara terbuka karena dengan sejumlah pertimbangan, kami tidak ingin adanya pengkotak-kotakan atau memisahkan, takunyat nanti kami disangka diskriminasi, ini poin yang kami hati-hati sehingga mohon bimbingannya,” jelas Joko.

Joko mengakui, tidak hanya MRP, banyak pihak yang ingin mengetahui jumlah data pekerja di PT.GPA, namun perusahaan masih menunggu hasil pertimbangan agar tidak menimbulkan kerugian baik masyarakat, pemerintah dan perusahaan sendiri.
“Kami tidak berani mengekspose data secara terbuka, kami masih menunggu arahan, pertimbangan kira-kira hal seperti ini kontraproduktif atau tidak, sehingga dalam perekrutan itu kami tidak menyebutkan mana yang asli mana yang bukan,” terangnya.
Joko juga menyampaikan, berkaitan dengan status pekerja harian lepas dan rekrutmen secara online maupun offline, pihaknya memberdayakan pelamar lulusan sekolah diseputaran wilayah perusahaan beroperasi.
“Jadi memang ada permintaan dari kabupaten, yang diharapkan dapat memberdayakan lulusan sekolah kejuruan,” pungkasnya.
Penulis: Jamal Y.Bwariat










Tinggalkan Balasan