Jembatan Hewu yang terletak di Kampung Salor, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Foto: Bataspapua.com.
BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Jembatan Kembar Hewu Salor yang terletak di Kampung Salor, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menjadi salah satu infrastruktur transportasi vital yang berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi logistik dan hasil pertanian dari kawasan lumbung pangan menuju pusat kota Merauke.
Jembatan yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “Jembatan Kembar Neto” ini berada di kawasan Ivi Mahad, Distrik Kurik. Keberadaannya menjadi jalur utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pusat aktivitas ekonomi di Kota Merauke, khususnya untuk memperlancar pengiriman hasil pertanian dari kawasan pengembangan food estate.
Secara historis, struktur awal jembatan ini dibangun sekitar tahun 1990. Namun, pada tahun 2008 jembatan tersebut mengalami kerusakan hingga ambruk. Pemerintah kemudian membangun kembali jembatan tersebut dengan struktur yang lebih kuat, dan pada tahun 2011 jembatan baru mulai dioperasikan secara penuh untuk memperlancar arus lalu lintas masyarakat dan distribusi barang.
Saat ini, Jembatan Hewu Salor dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah satu akses utama di Distrik Kurik. Berdasarkan ulasan pengguna di Google Maps, jembatan ini memiliki penilaian cukup baik dengan rating sekitar 4,4 dari 5. Meski demikian, beberapa pengunjung mencatat bahwa kondisi jalan di sekitar jembatan terkadang memerlukan peningkatan perawatan agar akses transportasi tetap optimal.
Pada Desember 2024 lalu, sempat terjadi aksi pemalangan oleh masyarakat adat setempat terkait persoalan tertentu. Namun situasi tersebut berhasil ditangani dengan cepat oleh aparat keamanan dari Polsek Kurik, sehingga aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.
Jembatan Hewu yang terletak di Kampung Salor, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Foto: Bataspapua.com.
Secara strategis, Jembatan Kembar Salor tidak hanya berfungsi sebagai penghubung transportasi, tetapi juga menjadi akses penting bagi masyarakat untuk menjangkau layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, serta layanan pemerintahan di Distrik Kurik dan wilayah sekitarnya.
Selain itu, jembatan ini dirancang untuk dapat dilalui kendaraan logistik dan angkutan hasil pertanian. Meski demikian, penggunaannya tetap mengikuti klasifikasi jalan kabupaten maupun provinsi yang membatasi kendaraan bermuatan sangat berat seperti truk tronton dengan muatan penuh, guna mencegah kerusakan pada struktur jembatan.
Pembangunan kembali jembatan pada tahun 2011 dilakukan dengan anggaran sekitar Rp7 miliar, sebagai pengganti struktur lama yang ambruk. Dengan konstruksi yang lebih kuat, jembatan ini memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan jembatan kayu atau jembatan darurat yang masih ditemukan di beberapa wilayah sekitar.
Oleh karena itu, kepatuhan terhadap aturan tonase kendaraan menjadi hal yang sangat penting. Mengingat peran Jembatan Kembar Salor sebagai urat nadi distribusi dari Kampung Salor menuju pusat kota Merauke, kendaraan dengan beban berlebih sangat dilarang melintas guna menghindari risiko kerusakan struktural seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008.
Ke depan, diharapkan perawatan rutin serta kesadaran pengguna jalan dapat terus ditingkatkan agar Jembatan Kembar Salor tetap berfungsi optimal dalam mendukung aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, dan pengembangan kawasan pangan di Kabupaten Merauke. (*)
Tinggalkan Balasan