Mama Hetina Ditemukan Tewas Dengan Naas, Jeritan Hati Guncang Nurani di Tengah Konflik Intan Jaya
BATASPAPUA.COM , INTAN JAYA – Kabar menyayat hati kini datang dari Papua Tengah. Di tengah upaya perdamaian dan proses mediasi konflik yang terus dilakukan, kabar duka kembali mengguncang hati masyarakat Intan Jaya.
Tim Mediasi Konflik Intan Jaya yang dikoordinir oleh Kepala BPMK Intan Jaya, Yoakim Mujizau, menemukan salah satu korban jiwa di Kampung Ndugusiga. Sosok malang itu adalah mama Hetina Mirip, seorang perempuan yang mengalami gangguan jiwa, yang diduga menjadi korban penembakan.
“Mama Hetina Mirip (Gangguan jiwa) ditemukan tim mediasi konflik Intan Jaya di kampung Ndugusiga, Intan Jaya tepatnya di depan gereja Katolik Ndugusiga,” tutur Yoakim Mujizau.
Menurut Mujizau, penemuan jenazah mama Hetina bermula dari laporan warga tentang bau busuk menyengat yang berasal dari lokasi penembakan dua hari sebelumnya. Laporan tersebut mendorong tim evakuasi untuk segera bergerak ke lokasi.
“Kami dengar dari masyarakat ada informasi penembakan dua hari lalu dan ada korban yang sedang membusuk jadi saya kirim tim evakuasi hari ini dan ditemukan mayat mama Hetina Mirip sudah dikubur tetapi sebagian badannya masih terlihat,” ujarnya lirih.
Ketika sampai di lokasi, tim evakuasi menemukan jenazah mama Hetina yang telah dikubur secara tidak layak. Setengah bagian tubuhnya masih tampak mencuat dari tanah. Melihat kondisi tersebut, tim memutuskan untuk menggali kembali dan melaksanakan pembakaran jenazah sesuai dengan tradisi setempat.
“Saat tim kami evakuasi mayatnya memang sudah dikubur tapi setengah badannya masih kelihatan jadi tim saya langsung evakuasi gali kubur dan bakar mayat mama Hetina sesuai tradisi,” ungkap Mujizau dengan suara penuh duka.
Yang membuat kabar ini semakin menyayat, adalah bahwa hanya beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 15 Mei 2025, Mujizau dan tim evakuasi sempat bertemu dengan mama Hetina dalam keadaan masih hidup. Saat itu, mereka mengevakuasi masyarakat di Kampung Jaindapa dan Sugapa Lama. Mama Hetina yang tinggal sendiri di sebuah rumah, menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
“Saat kami masuk rumah itu kami semua sama-sama kaget karena mama ini ada dalam rumah. Lalu, dia keluar salami kami semua yg datang saat itu dan saat kami pulang, kami antar mama Hetina Mirip ke Titigi di tempat pengungsian masyarakat,” kenang Mujizau dengan nada lirih.
Kenangan singkat namun membekas itu kini berubah menjadi luka mendalam.
“Sayang dan sedih sekali hati ini serasa tersayat. tanggal 15 Mei 2025 saat saya pimpin tim evakuasi ke Kampung Jaindapa dan sugapa lama tinggal Hanya dia mama Hetina Mirip dalam rumah dan sapa kami dengan hangat itu kini telah jadi korban,” ungkap Mujizau sedih.
Dengan mata berkaca-kaca, Mujizau menambahkan, “Saya lihat dia tersisa di kampung jaindapa saat itu namun hari ini saya menemukan dan melihat mayatnya. Sayang ah.”
Soal siapa pelaku penembakan, Mujizau mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang tega menghabisi nyawa seorang perempuan tak berdaya yang mengalami gangguan jiwa.
Di akhir pernyataannya, Mujizau menyerukan doa dan solidaritas dari semua pihak demi keselamatan dan pemulihan masyarakat Intan Jaya.
“Mohon dukungan dan doa ya semuanya. Tuhan berkati seluruh tim yang sedang bekerja untuk kemanusiaan di Intan Jaya,” pungkasnya.
Sementara itu, di tengah duka yang membungkus tanah Intan Jaya, sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mulai beredar luas di media sosial. Surat tersebut ditulis oleh Antonia Hilaria Wandagau, yang mengaku sebagai anak dari mama Hetina Mirip.
Berikut isi surat tersebut:
⸻
Surat Terbuka untuk Pak Presiden Prabowo Subianto
Pak Presiden, Ibu Saya Dibakar di Halaman Rumah: Sampai Kapan Negara Menembaki Rakyatnya Sendiri?
Kepada Yth.
Presiden Republik Indonesia
Jenderal (Purn.) Prabowo Subianto
di Istana Negara, Jakarta
Bapak Presiden,
Ibu saya, Hetina Mirip, bukan kombatan. Ia bukan bagian dari kelompok bersenjata, bukan pula musuh negara. Ia hanya seorang perempuan Papua, ibu rumah tangga yang setia pada dapur dan doa. Tapi pagi kemarin yang bisu di Kampung ku Jindapa, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, tentara datang, rumah kami dikepung, dan ibuku ditembak, dibakar di halaman rumah, tepat di depan mata saya. Ia dikubur tanpa upacara, tanpa upaya hukum, tanpa satu pun air mata dari negara yang katanya milik semua rakyatnya.
Bapak Presiden,
Apakah ini arti nasionalisme di mata negara: membunuh warganya sendiri lalu memanggilnya stabilitas? Apakah luka yang menganga di Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Dogiyai, Mimika, Maybrat dan daerah lainnya di Tanah Papua hanyalah angka dalam laporan militer? Kami bukan statistik, Pak. Kami anak-anak manusia yang masih bertanya: apa dosa kami dilahirkan sebagai Papua?
Saya menulis surat ini bukan hanya untuk ibu saya, tapi untuk ribuan ibu lain yang dibakar perlahan oleh peluru, ketakutan, dan pengungsian. Di tanah kami, sekolah berubah jadi barak, guru digantikan senapan, dan suara tangis anak-anak menjadi latar belakang setiap operasi. Kami butuh guru dan nakes, bukan pasukan tempur. Kami ingin hidup, bukan dibungkam.
Bapak Presiden,
Sementara dunia Anda dipenuhi konferensi dan foto diplomatik, kami terjebak dalam kobaran senyap kekerasan. Anda menawarkan diri sebagai mediator konflik Rusia dan Ukraina, tetapi mengapa Anda tutup pintu dialog dengan rakyat Anda sendiri di Papua? Mengapa negara lebih peduli pada pengungsi asing daripada kami, pengungsi di tanah sendiri?
Saya ingin mengerti, Pak, bagaimana mungkin pembunuhan warga sipil bisa dianggap prestasi? Bagaimana bisa tentara yang membakar kampung kami diberi penghargaan? Apakah impunitas kini bagian dari budaya resmi negara? Apakah keadilan hanya milik mereka yang berseragam dan berkantor di ibu kota?
Bapak Presiden,
Apa arti Indonesia jika tidak ada tempat untuk Papua di dalamnya, selain sebagai target tembak? Apa arti kemerdekaan jika kami masih hidup dalam bayang-bayang penyisiran, pengejaran, dan stigma? Di mana itu Pancasila, ketika sila kemanusiaan justru dikubur bersama mayat ibu saya?
Saya tidak menulis untuk membalas dendam. Saya menulis agar nurani Anda terbangun. Agar publik Indonesia tahu bahwa kemerdekaan belum tiba di tanah kami. Bahwa ada anak bangsa yang terus-menerus disayat oleh negaranya sendiri, dan dunia diam.
Surat ini adalah suara dari seorang anak, korban, dan saksi. Jika negara tak sanggup melindungi kami, paling tidak berhentilah menyakiti kami. Jangan wariskan darah kepada generasi berikutnya. Hentikan pembantaian. Buka ruang dialog. Hadirkan keadilan. Kembalikan kemanusiaan.
Kami masih menunggu, Pak Presiden. Tapi entah sampai kapan.
Hormat saya,
Seorang anak Papua yang kehilangan ibuku karena ditembak dan dibakar aparat negara
(Antonia Hilaria Wandagau)
⸻
Surat ini menjadi refleksi kepedihan yang mendalam, sekaligus jeritan hati yang menuntut keadilan. Intan Jaya bukan sekadar nama kabupaten, namun kini menjadi simbol luka dan harapan bagi sebuah bangsa yang sedang mencari wajah kemanusiaannya. (*)










Tinggalkan Balasan