Film Dokumenter “Pesta Babi” Soroti Benturan Budaya dan Pembangunan PSN di Papua Selatan

Anton Bambang Eko Susilo, S.Hut., M.Si

BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan potret mendalam kehidupan masyarakat adat di pedalaman Papua Selatan di tengah masuknya Proyek Strategis Nasional (PSN). Film ini tidak hanya menampilkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga mengangkat dinamika sosial, budaya, dan antropologis masyarakat adat yang hidup dengan tradisi turun-temurun.

Melalui pendekatan visual dan pengamatan langsung di lapangan, film tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat Papua Selatan memandang tanah, adat, dan tradisi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas mereka. Salah satu simbol utama yang diangkat adalah “pesta babi”, tradisi adat yang memiliki makna penting dalam kehidupan sosial masyarakat, mulai dari pernikahan, penyelesaian sengketa, hingga ritual syukuran.

Penulis sekaligus pemerhati lingkungan hidup, Anton Bambang Eko Susilo, S.Hut., M.Si., menilai film ini menjadi refleksi penting tentang pertemuan dua dunia yang berbeda, yakni budaya tradisional masyarakat adat dan pembangunan modern melalui proyek-proyek nasional.

“Film ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya soal jalan, gedung, atau investasi, tetapi juga menyangkut kehidupan manusia, budaya, dan sejarah yang hidup di tengah masyarakat adat,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Dalam dokumenter tersebut, proyek-proyek PSN di Papua Selatan digambarkan membawa dampak ganda. Di satu sisi membuka akses wilayah pedalaman, meningkatkan konektivitas, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi baru. Namun di sisi lain, pembangunan dinilai memunculkan tantangan sosial dan budaya, terutama terkait perubahan tata ruang adat, pembebasan lahan, hingga potensi tergerusnya identitas budaya masyarakat lokal.

Film Pesta Babi juga menyoroti perbedaan cara pandang antara pemerintah dan masyarakat adat terhadap tanah dan pembangunan. Bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan leluhur dan ruang hidup yang sakral. Sementara pembangunan modern sering kali menggunakan pendekatan administratif dan ekonomi semata.

Dari perspektif antropologis, dokumenter ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat berusaha beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri budaya mereka. Tradisi adat tetap dipertahankan di tengah masuknya modernisasi dan perubahan pola ekonomi masyarakat.

Anton menegaskan, pembangunan di Papua Selatan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan menghormati nilai-nilai budaya lokal agar tidak menimbulkan konflik sosial maupun hilangnya identitas masyarakat adat.

“Pembangunan harus dirancang bersama masyarakat adat, bukan menggusur budaya mereka. Kemajuan sejati adalah ketika masyarakat bisa hidup sejahtera tanpa kehilangan akar budayanya,” katanya.

Film dokumenter Pesta Babi dinilai menjadi pengingat penting bahwa pembangunan nasional harus berjalan seimbang dengan perlindungan budaya, hak masyarakat adat, dan kelestarian lingkungan hidup di Papua Selatan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!