Bupati Pegunungan Bintang Luncurkan Pelatihan Kurikulum Ap Iwo, Perkuat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Okmekmin

Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, resmi meluncurkan Pelatihan Kurikulum Ap Iwo (Kurikulum Kukuperip). Foto: Istimewa

BATASPAPUA.COM, OKSIBIL – Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, resmi meluncurkan Pelatihan Kurikulum Ap Iwo (Kurikulum Kukuperip) sebagai langkah strategis membangun sistem pendidikan berbasis kearifan lokal. Peluncuran dilakukan langsung oleh Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, ST., M.Si., didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Kearsipan dan Perpustakaan Daerah, Hengki Bidana, di Kompleks Pendidikan Integrasi Kukuperip, Jalan Oksingsing–Kalomdol, Oksibil, Kamis (16/7/2026).

Peluncuran pelatihan tersebut menjadi tonggak awal implementasi Kurikulum Ap Iwo yang akan diterapkan secara bertahap mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), sebagai bagian dari pembangunan pendidikan kontekstual berbasis budaya masyarakat asli Pegunungan Bintang.

Dalam sambutannya, Bupati Spei Yan Bidana menegaskan bahwa pembangunan sektor pendidikan pada periode kepemimpinannya tidak hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan identitas budaya masyarakat melalui sistem pendidikan.

Menurutnya, setelah berhasil membangun Universitas Okmin Papua (UOP) pada periode pertama kepemimpinannya, pemerintah kini memasuki tahap berikutnya, yakni membangun fondasi pendidikan berbasis kebudayaan melalui konsep Kurikulum Ap Iwo yang mengangkat nilai-nilai budaya tiga suku besar di Pegunungan Bintang, yakni Ok, Mek, dan Min (Okmekmin).

“Ap Iwo merupakan simbol kehidupan masyarakat kita. Ap berarti rumah, I berarti mereka, dan Wo atau Wol berarti jalan. Di situlah pusat kehidupan masyarakat Okmekmin. Hasil pemetaan budaya yang sedang kami lakukan akan menjadi bahan ajar dan diterbitkan dalam bentuk buku sebagai kurikulum pembelajaran mulai dari pendidikan dasar hingga Universitas Okmin Papua,” ujar Bupati Spei.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang saat ini juga tengah menyelesaikan kajian akademik pemetaan Wilayah Kebudayaan Okmekmin yang telah memasuki tahap kedua. Kajian tersebut ditargetkan rampung dalam satu tahun ke depan dan akan menjadi dasar ilmiah penyusunan kurikulum pendidikan berbasis budaya lokal.

Bupati Spei menegaskan bahwa nilai-nilai budaya masyarakat harus dilembagakan agar tidak tergerus oleh derasnya perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

“Nilai-nilai positif budaya kita harus dilestarikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Kukuperip menjadi sekolah pertama yang menerapkan Kurikulum Ap Iwo. Setelah melalui masa uji coba selama dua tahun, kurikulum ini akan diterapkan secara bertahap di seluruh sekolah di Pegunungan Bintang,” katanya.

Menurutnya, pendidikan berbasis budaya akan menjadi kekuatan utama dalam membentuk generasi Pegunungan Bintang yang berkarakter, beridentitas, dan mampu bersaing di era global tanpa kehilangan akar budayanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, Hengki Bidana, mengatakan pelatihan yang dimulai di Kukuperip merupakan langkah awal dalam menyiapkan tenaga pendidik untuk mengimplementasikan Kurikulum Ap Iwo di lingkungan sekolah.

Para guru yang direkrut akan mendapatkan pelatihan mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat Okmekmin, mulai dari pengetahuan lokal, pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, hingga nilai-nilai sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Guru-guru akan belajar bersama masyarakat untuk menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai materi pembelajaran. Setelah itu akan dilakukan sosialisasi dan implementasi secara bertahap di sekolah,” ujar Hengki.

Ia menilai perkembangan teknologi informasi saat ini membawa tantangan serius terhadap keberlangsungan bahasa dan budaya daerah. Menurutnya, fenomena semakin banyaknya anak yang fasih berbahasa Indonesia namun tidak lagi menguasai bahasa ibu menjadi sinyal mulai memudarnya identitas budaya lokal.

“Ketika bahasa daerah hilang, maka budaya juga akan ikut hilang. Sekolah Integrasi Kukuperip hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari proses pendidikan formal,” tegasnya.

Hengki juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Spei Yan Bidana yang dinilai konsisten memberikan perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.

Ia menyebutkan, sejak periode pertama kepemimpinan Bupati Spei yang ditandai dengan pembangunan Universitas Okmin Papua, hingga periode kedua melalui pembangunan Sekolah Integrasi Kukuperip dan Kurikulum Ap Iwo, pemerintah terus menunjukkan komitmen dalam membangun pendidikan yang berpijak pada identitas budaya masyarakat Pegunungan Bintang.

Melalui peluncuran Kurikulum Ap Iwo ini, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang berharap lahir sebuah model pendidikan kontekstual yang tidak hanya menghasilkan generasi unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya Okmekmin sebagai bagian dari jati diri masyarakat Papua Pegunungan.

Penulis: Demi
Editor: Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!