246 mahasiswa Universitas Okmin Papua (UOP) ikuti Yudisium perdana pada Selasa (31/3/2026), di halaman kampus baru UOP, Esipding, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
BATASPAPUA.COM, OKSIBIL – Di tengah bentang alam pegunungan yang sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar, sejarah baru lahir di Oksibil. Sebanyak 246 mahasiswa Universitas Okmin Papua (UOP) resmi mengikuti Yudisium perdana, Selasa (31/3/2026), menandai babak awal kebangkitan pendidikan tinggi di jantung Papua Pegunungan.
Di halaman kampus baru UOP di Esipding, suasana haru dan bangga menyatu. Ratusan orang tua, tamu undangan, serta jajaran pejabat daerah memadati lokasi, menjadi saksi momen yang tak hanya sakral, tetapi juga penuh makna bagi masa depan generasi Okmekmin.
Yudisium ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah simbol dari sebuah mimpi panjang yang akhirnya menemukan bentuknya. Universitas yang berdiri pada 17 Agustus 2021 ini kini menjelma menjadi harapan baru, sebuah universitas pertama di wilayah pedalaman sekaligus kawasan perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Rektor UOP, Pastor Dr. Yohanes Kore, menegaskan bahwa kehadiran kampus ini bukanlah sesuatu yang lahir dengan mudah, melainkan hasil dari perjuangan dan tekad besar.
“Sebuah Universitas hadir di daerah Pegunungan dan perbatasan itu bukan sesuatu yang gampang. Itu sesuatu yang luar biasa, dan karena itu kita harus memberikan apresiasi kepada Bapak Bupati sebagai pendiri Universitas ini,” ujarnya dengan penuh penekanan.
246 mahasiswa Universitas Okmin Papua (UOP) ikuti Yudisium perdana pada Selasa (31/3/2026), di halaman kampus baru UOP, Esipding, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa gagasan mendirikan universitas telah hidup jauh sebelum realisasi hari ini. Sebuah janji yang dulu terdengar seperti mimpi, kini berdiri nyata di hadapan masyarakat.
“Kami sudah lama bermimpi mendirikan Universitas ini. Bahkan sebelum beliau menjadi bupati, beliau pernah mengatakan, tunggu sampai saya jadi bupati, saya akan dirikan Universitas. Hari ini mimpi itu menjadi kenyataan,” katanya.
Lebih dari sekadar tempat belajar, UOP hadir sebagai jawaban atas keterbatasan akses pendidikan tinggi di wilayah pegunungan. Di sinilah generasi muda tidak lagi harus meninggalkan tanah kelahiran demi mengejar ilmu.
“Universitas ini hadir supaya anak-anak tidak perlu terbang jauh untuk pendidikan. Disini kita mengangkat nilai-nilai luhur yang sudah ada sebagai anugerah Tuhan bagi masyarakat Okmekmin,” lanjutnya.
Namun, di balik toga dan gelar yang diraih, Rektor mengingatkan bahwa perjalanan para lulusan sejatinya baru dimulai.
“Pendidikan itu bukan berhenti ketika mendapat gelar. Justru harus berpikir bahwa kita belum mendapat apa-apa dan harus terus belajar. Dengan belajar terus, pengetahuan akan bertambah,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, membawa audiens pada refleksi masa lalu yang menjadi sumber inspirasinya. Pengalaman merantau untuk menempuh pendidikan di Pulau Jawa tiga dekade silam menjadi titik balik cara pandangnya terhadap pembangunan daerah.
Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana ST,. M.Si.
“Saya belajar dari pengalaman 30 tahun lalu ketika kuliah di Jawa. Saya melihat kemajuan luar biasa Kota Jogja karena banyak Universitas di sana. Itu yang menginspirasi saya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa masa depan Pegunungan Bintang tidak bisa ditopang semata oleh kekayaan alam, melainkan oleh kualitas manusianya.
“Kita tidak bisa membangun daerah ini tanpa pendidikan. Universitas ini menjadi daya ungkit terbesar untuk membangun manusia Okmekmin,” kata Spei dengan nada optimistis.
Bahkan, ia memproyeksikan masa depan yang lebih besar: menjadikan wilayah ini sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia, khususnya dalam bidang linguistik dan kebudayaan Melanesia.
“Kita ini berada di pusat Pulau Papua dan kebudayaan Melanesia. Ke depan, daerah ini akan menjadi pusat penelitian linguistik dan kebudayaan Melanesia, bahkan dunia,” ujarnya.
Yudisium perdana ini pun menjadi lebih dari sekadar kelulusan. Ia adalah penanda bahwa dari wilayah yang selama ini dianggap terpencil, kini lahir generasi baru yang siap membawa perubahan. Dari Oksibil, harapan itu tumbuh dengan perlahan, namun pasti.
Turut hadir dalam acara bersejarah ini, Sekda Pegunungan Bintang Jeni Linthin, Ketua DPRK Pegunungan Bintang Gutinus Wasini, Anggota DPRK dari fraksi partai Golkar Andreas Kakadir, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pegunungan Bintang.(*)
Tinggalkan Balasan