Distrik Animha: Jejak “Manusia Sejati”, Warisan Peradaban, dan Asa Baru Papua Selatan

Wakil Ketua III DPR Provinsi Papua Selatan, Joseph Albin Gebze,M.M

BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Di hamparan selatan Papua, Distrik Animha berdiri bukan sekadar sebagai batas administratif, melainkan sebagai ruang hidup yang sarat makna, sejarah, dan identitas. Bagi masyarakat adat Malind, Animha adalah simbol “Manusia Sejati” sebuah filosofi yang merepresentasikan jati diri, kekuatan, dan kearifan yang diwariskan lintas generasi.

Dalam kunjungan reses yang dilakukan Wakil Ketua III DPR Provinsi Papua Selatan, Joseph Albin Gebze,M.M, terungkap wajah Animha yang kaya potensi namun masih menyimpan berbagai tantangan pembangunan. Dari sumber daya manusia hingga pelestarian budaya, semua berpadu dalam satu narasi besar: bagaimana menjaga jati diri di tengah arus perubahan.

Joseph menegaskan bahwa masyarakat Animha, khususnya Orang Malind, memiliki keunggulan fisik yang berpotensi besar untuk dikembangkan dalam dunia olahraga. Namun, potensi tersebut belum dibarengi dengan pembinaan yang berkelanjutan.

“Selama ini perhatian hanya muncul saat ada event. Padahal, pembinaan atlet membutuhkan konsistensi sepanjang waktu. Ini yang harus dibenahi,” ujarnya.

Lebih dari sekadar potensi fisik, Animha juga merupakan jantung sejarah peradaban Malind. Wilayah adat ini membentang luas dari Kalitorasi hingga Digul, menjadi rumah bagi kelompok Sosok dengan lima kampung utama: Koa, Kaisa, Sinegi, Wayau, dan Bat. Kampung Bat sendiri memiliki nilai sakral sebagai pusat Kerajaan Malind Sosom tempat bersemayamnya pemimpin adat dan simbol kekuatan budaya.

Keberadaan situs-situs bersejarah ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar budaya. Joseph menekankan pentingnya pendekatan kultural dalam setiap kebijakan pemerintah.

Wakil Ketua III DPR Provinsi Papua Selatan, Yosep Albin Gebze, memberikan bantuan kepada masyarakat saat melakukan Reses di Distrik Animha, Merauke, Papua Selatan. Foto: Istimewa
Wakil Ketua III DPR Provinsi Papua Selatan, Joseph Albin Gebze, memberikan bantuan kepada masyarakat saat melakukan Reses di Distrik Animha, Merauke, Papua Selatan. Foto: Istimewa

“Pembangunan tidak bisa hanya bicara fisik. Kita harus menjaga nilai-nilai adat, karena di situlah identitas kita berdiri,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar sejarah kelam tidak terulang. Mengacu pada pembukaan Merauke tahun 1902 yang menyebabkan pusat peradaban lama di Imbuti terabaikan, Joseph mengingatkan agar pembangunan saat ini termasuk pemindahan ibu kota provinsi ke Salor tidak kembali menggeser nilai-nilai sakral masyarakat adat.

“Kami tidak ingin siklus 100 tahun itu terjadi lagi. Ketika pembangunan modern berdiri, jangan sampai adat dan budaya justru hilang,” katanya penuh harap.

Di sisi lain, geliat pembangunan melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) mulai dirasakan masyarakat. Namun, Joseph menegaskan bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama, seiring dengan penghormatan terhadap kearifan lokal.

Tak hanya itu, sektor ekonomi juga menjadi perhatian serius. Wilayah Animha yang luas dan kaya sumber daya dinilai belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat. Ia mendorong adanya pelatihan keterampilan dan kewirausahaan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

“Kita ingin orang asli di sini bisa mandiri buka usaha, bengkel, warung makan. Jangan sampai peluang diambil orang lain, sementara anak-anak kita hanya melihat,” tegasnya.

Kunjungan tersebut disambut hangat oleh masyarakat. Antusiasme terlihat dari penyambutan adat hingga pesta rakyat yang digelar sebagai ungkapan syukur. Tarian tradisional Kandara Pica dan goyang persembahan menjadi simbol kegembiraan sekaligus harapan akan perhatian yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar agenda reses, kehadiran para wakil rakyat di Animha menjadi momentum penting untuk mendengar langsung suara akar rumput suara dari tanah yang menyimpan sejarah panjang dan masa depan yang masih harus diperjuangkan.

Distrik Animha hari ini adalah cermin dari Papua Selatan kaya akan nilai, kuat dalam identitas, namun membutuhkan sentuhan kebijakan yang tepat agar tidak kehilangan arah. Di tengah geliat pembangunan, satu hal menjadi jelas Animha bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang masa depan yang harus dijaga bersama.

Penulis: Anton Bambang
Editor: Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!