9 Kali Tes TNI hingga Jadi Pasukan Perdamaian PBB, Praka Satria Taopan Gugur ditangan KKB Papua
BATASPAPUA.COM, JAYAPURA – Di balik dentum peluru yang merenggut nyawanya, tersimpan sebuah kisah panjang tentang keteguhan hati, doa yang tak pernah putus, dan mimpi yang diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Praka Satria Taopan bukan hanya gugur sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, ia pergi sebagai simbol keteguhan seorang anak bangsa yang menolak menyerah pada keadaan.
Perjalanan hidup Satria menuju seragam loreng jauh dari kata mudah. Sembilan kali ia jatuh dalam seleksi TNI AD. Dua kali mencoba kepolisian. Sekali Akpol. Sekali Bintara. Namun satu hal tak pernah berubah, yakni tekadnya untuk menjadi tentara. Di setiap kegagalan, ia memilih bangkit. Di setiap penolakan, ia kembali mencoba.
“Cita-citanya hanya satu sejak awal. Dia mau jadi tentara,” tutur sang ayah, Dominggus Taopan, dengan suara bergetar di rumah duka di Kupang.
Di usia terakhir pendaftaran, saat banyak orang memilih berhenti bermimpi, Satria masih bertahan. Bahkan ia sempat berkata kepada orang tuanya, jika gagal pada tes terakhir, ia siap menjadi sopir truk. Bukan karena menyerah, melainkan karena hidup harus tetap berjalan. Namun sang ayah menolak membiarkan mimpinya padam.
“Kita berjuang sama-sama. Kita doakan sama-sama,” kenang Dominggus.
Doa itu akhirnya terjawab. Tahun 2018 menjadi titik balik kehidupan Satria Taopan. Ia resmi dilantik sebagai prajurit TNI AD. Dari sekian banyak hal yang bisa ia minta, hanya satu permohonannya: orang tuanya harus hadir menyaksikan pelantikan di Bali. Dan hari itu, mimpi yang diperjuangkan bertahun-tahun akhirnya berdiri tegak di atas lapangan upacara.
Usai dilantik, Papua menjadi medan pengabdiannya. Ia berdinas di Yonif 121/Macan Kumbang, Kodam I/Bukit Barisan, lalu menjalani penugasan di perbatasan Papua–Papua Nugini. Jauh dari rumah, jauh dari orang tua, namun dekat dengan panggilan tugas.
Prestasinya tak berhenti di sana. Dari ribuan prajurit yang mengikuti seleksi pasukan perdamaian PBB, hanya 900 yang terpilih. Nama Satria Taopan ada di antaranya. Kabar itu ia sampaikan sendiri kepada orang tuanya melalui telepon. Tangis haru dan doa menyatu di seberang sambungan.
Setelah pelatihan di Bandung, Satria berangkat ke Kongo menjalankan misi perdamaian dunia selama satu tahun satu bulan. Saat mendapat cuti, ia menolak wisata ke luar negeri. Ia memilih pulang ke Kupang.
“Saya harus pulang ke tanah asal,” katanya. Prinsip yang sederhana, namun penuh makna.
Usai menuntaskan misi PBB, ia kembali ke satuannya dan menikmati cuti singkat bersama keluarga. Tak lama kemudian, panggilan tugas kembali datang. Papua kembali memanggilnya. Meski berasal dari Yonif Raider 100/PS, ia termasuk 12 prajurit yang dipercaya memperkuat satuan di daerah rawan.
Baru sekitar satu tahun ia kembali bertugas di Papua. Pada 24 Januari mendatang, masa tugas itu genap setahun. Namun takdir berkata lain.
Kamis, 8 Januari 2026, peluru Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) merenggut nyawa Praka Satria Taopan. Ia gugur di tanah yang selama ini dijaganya. Gugur sebagai prajurit. Gugur sebagai anak bangsa.
Praka Satria Taopan gugur setelah ditembak KKB Papua saat terjadi kontak senjata di Kampung Tetmid, Papua, Kamis pagi. Ia menghembuskan napas terakhirnya di tanah tugas, jauh dari keluarga dan kampung halaman yang dicintainya. Namun kisahnya tak pernah berakhir di sana.
Sembilan kali gagal tak mampu menghentikannya. Jarak, bahaya, dan medan berat tak pernah membuatnya mundur. Praka Satria Taopan telah membuktikan bahwa pengabdian sejati lahir dari ketekunan, keberanian, dan keyakinan bahwa mimpi betapapun sulitnya, layak diperjuangkan sampai akhir.
Loreng itu akhirnya ia kenakan, dan kehormatan itu, ia bawa hingga akhir hayatnya. (*)










Tinggalkan Balasan