Viral! Wanita Kritik BTM vs MDF Soal Pengkaderan Papua, Netizen Banjir Pro-Kontra

Kolase Tangkapan Layar Video Viral di grup Facebook Info Kejadian Kota Jayapura dan Sekitarnya | IKKJ.

BATASPAPUA.COM, JAYAPURA – Sebuah video berdurasi 59 detik yang memperlihatkan seorang wanita sedang menyampaikan pendapatnya secara tajam soal dua tokoh yang disebut-sebut akan bertarung dalam Pilgub Papua mendadak viral di media sosial.

Video tersebut awalnya diunggah di akun TikTok @ketty1363, namun akun tersebut telah diblokir. Video ini kemudia di bagikan di grup Facebook Info Kejadian Kota Jayapura dan Sekitarnya | IKKJ dan sontak menjadi viral.

Cek Videonya Disini!

 

Dalam video itu, wanita yang diketahui bernama Ketty Kreuta membandingkan rekam jejak Wali Kota Jayapura dua periode, Benhur Tommy Mano (BTM), dengan mantan Kapolda Papua, Irjen Pol (Purn) Mathius Derek Fakhiri, dalam hal pengkaderan anak-anak Papua.

“Kalian bicara tentang saya, silakan. Tapi komentar yang wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Sebab kalau sudah berlebihan, anda saya proses,” ujar Kitty mengawali pernyataannya dengan nada tegas.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan tajam kepada BTM, mempertanyakan sejauh mana kontribusinya dalam memajukan anak-anak Papua dari delapan kabupaten saat menjabat wali kota selama 10 tahun.

“Siapa yang Bapak kaderkan? Kepala dinas kah? Sekretaris? Atau mungkin Bapak pernah kirim anak-anak sekolah ke luar negeri lalu tarik kembali untuk dinas?,” katanya.

Kitty lalu membandingkan dengan sosok Matius Fakhiri yang menurutnya dalam waktu singkat sebagai Kapolda mampu mengangkat banyak anak Papua menjadi perwira dan menarik mereka kembali untuk berdinas. Ia menyebut Fakhiri memiliki “jiwa pemimpin” yang sejati.

Pernyataan itu menuai gelombang respons di dunia maya. Di kolom komentar, netizen terbelah antara yang mendukung dan mengkritik.

Akun Mcthay Zyco menilai pernyataan Kitty tidak paham konteks dan tugas seorang wali kota.
“SDM rendah begini nih… Tidak paham Tupoksi. Wali kota itu bertanggung jawab ke DPRD, bukan kaderisasi ASN lintas kabupaten,” tulisnya.

Sementara Andreas Mastom menilai tidak ada tokoh yang benar-benar berhasil dalam pengkaderan, kecuali almarhum Lukas Enembe.
“Beliau tidak pernah membeda-bedakan, Gunung atau Pantai, pikirannya selalu ke depan, agar anak-anak Papua bisa maju,” ujarnya.

Tak sedikit pula yang mengkritisi logika perbandingan yang dibuat Ketty.
“BTM itu wali kota, bukan gubernur. MDF itu Kapolda, yang sejajar dengan gubernur. Jadi wajar punya wewenang lebih luas,” ujar akun Nadapmirin Mirinnadap.

Namun di tengah polemik, ada juga suara yang mengajak semua pihak untuk menurunkan tensi dan tetap menggunakan hati nurani dalam menentukan pilihan.
“Kita tunggu pemilihan dan memilih dari hati nurani,” tulis akun Mustafa Dayto.
“Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan,” tambah akun Gemar Gemar.

Video ini menjadi salah satu konten politik paling viral menjelang Pilgub Papua, memperlihatkan betapa panasnya pertarungan opini di media sosial. Namun pada akhirnya, rakyat Papua-lah yang akan menentukan siapa sosok pemimpin yang layak membawa masa depan Bumi Cenderawasih ke arah yang lebih baik.

Sementara itu, tensi politik di Papua makin memanas pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan hasil Pilgub Papua 2024. Dalam putusannya, MK memerintahkan dilakukannya Pemungutan Suara Ulang (PSU) dalam waktu paling lama 180 hari kalender sejak putusan dibacakan. Keputusan tersebut otomatis membuka kembali kontestasi politik di Bumi Cenderawasih dan memberi peluang baru bagi para kandidat untuk merebut hati rakyat Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!