Sosok Aris Sanda Bagi Masyarakat Nduga, Sopir Pembawa Kehidupan Yang Dibunuh KKB Papua
BATASPAPUA.COM, NDUGA — Selama 13 tahun, Aris Sanda dikenal sebagai sopir yang melayani masyarakat di wilayah Pegunungan Nduga. Pria asal Toraja itu tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga membawa makanan dan logistik, mengantar mama-mama berjualan, serta membantu mobilitas anak-anak dan warga dari Wamena menuju Nduga.
Bagi masyarakat setempat, Almarhum Aris bukan lagi sekadar warga pendatang. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
“Sudah 13 tahun dia layani kami, bawa makanan kami, bawa mam-mama kami jualan, bawa anak-anak kami dari Wamena ke Nduga dengan selamat,” ungkap masyarakat dan anak-anak sekolah dari tiga distrik di Kabupaten Nduga.
Perjalanan Aris berakhir tragis pada Selasa (15/9/2026), ketika ia mengemudikan Toyota Hilux merah dari Wamena menuju Mbua dengan membawa sejumlah penumpang, termasuk Pendeta Tomi Gwijangge (38).
Selain pendeta, terdapat sejumlah penumpang lain di dalam kendaraan tersebut, yakni Nos (23), Penias (32), Sare (26), Yapet (18), Gier (11), Serminca (13), serta Didi dan Selti.
Sekitar pukul 06.00 WIT, kendaraan tersebut dihentikan sekelompok orang bersenjata di kawasan Gunung Boy, sekitar pertigaan Danau Habema, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Para penumpang diperiksa dan kemudian diperintahkan kembali menuju Wamena, sedangkan Aris dibawa menuju kawasan Danau Habema.
Menurut Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, Aris kemudian menjadi korban tindakan kekerasan kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama yang mengakibatkan dirinya meninggal dunia.
Dalam penguasaan kelompok tersebut, beredar rekaman video yang memperlihatkan Aris menyampaikan pernyataan mendukung Papua merdeka. Ia juga menyebut telah bekerja sebagai sopir di Papua sejak 2013 hingga 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Aris berada dalam penguasaan kelompok bersenjata, sehingga tidak dapat serta-merta dipandang sebagai sikap politik yang lahir secara bebas.
Setelah itu, Aris dilaporkan ditembak. Kendaraan yang dikemudikannya juga dibakar bersama korban. Tim Koops TNI Habema kemudian melakukan pencarian dan menemukan mobil dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudinya.
Kabar kematian Aris meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Nduga yang selama bertahun-tahun menggunakan jasanya. Mereka menyebut Aris telah dianggap sebagai bagian dari masyarakat setempat meski berasal dari Toraja.
“Sopir itu bukan orang Toraja saja, bukan pendatang saja. Bagi kami masyarakat kecil di Nduga, dia sudah seperti orang Nduga,” ungkap masyarakat dan anak-anak sekolah dari tiga distrik Kabupaten Nduga.
Masyarakat juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Aris di Toraja sekaligus menyerukan agar sopir dan warga sipil tidak lagi menjadi sasaran kekerasan.
“Stop sudah, jangan sembarang tembak sopir. Sopir itu bukan musuh, dia tidak bawa senjata. Dia bawa kehidupan kami di Nduga,” tegas masyarakat dalam pernyataan duka tersebut.
Mereka berharap jalur Wamena-Nduga kembali aman agar anak-anak dapat bersekolah dan warga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut.
Bagi masyarakat Nduga, Aris Sanda dikenang sebagai sopir yang selama 13 tahun membantu membawa kehidupan melalui jalur pegunungan.
Pada hari terakhirnya, ia masih menjalankan pekerjaan yang sama yakni membawa penumpang, termasuk seorang pendeta, dari Wamena menuju Mbua. Namun perjalanan tersebut berakhir ketika Aris dipisahkan dari para penumpangnya, dibawa oleh kelompok bersenjata, diduga dipaksa menyampaikan pernyataan politik, kemudian ditembak.
Kepergian Aris meninggalkan duka bagi keluarga di Toraja dan masyarakat yang selama bertahun-tahun mengandalkan jasanya di Pegunungan Nduga. Masyarakat pun menutup pernyataan mereka dengan harapan agar tidak ada lagi korban dan air mata di tanah Nduga.(*)










Tinggalkan Balasan