Persaingan Politik Tidak Sehat, Matius Fakhiri Dituduh Korupsi, Steve Mara: Ada Langkah Hukum
BATASPAPUA.COM, JAYAPURA – Isu politik identitas menguat di Papua khususnya dalam perebutan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Kembali menguat.
Menguatnya isu politik identitas ini terjadi dalam beberapa waktu terakhir setelah masa pendaftaran di KPU Papua.
Pasangan calon Matius Fakhiri dan Aryoko Rumaropen (MARI-YO) diserang dengan menggunakan isu Matius bukan orang asli Tabi sehingga tidak punya hak di Papua dan Aryoko Rumaropen adalah orang Manado.
Menanggapi hal tersebut, Steve Mara selaku Juru Bicara MARI-YO menyampaikan turut prihatin atas isu SARA yang dibangun oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan dalam Pilkada Papua 2024.
Selain itu, Steve juga menjelaskan bahwa Matius Fakhiri dituduh terlibat dalam skandal kasus korupsi dana PON Papua tahun 2020 yang dilaksanakan tahun 2021.
Dikatakan, pada saat kegiatan PON dilaksanakan tahun 2021, calon Gubernur Matius Fakiri masih menjabat sebagai Kapolda Papua.
“Jelas tugas Kapolda adalah mengamankan pelaksanaan PON yang sempat ditunda, untuk tetap dilaksanakan pada tahun 2021 ditengah masa Pandemi Covid-19,” kata Steve.
“Beliau saat itu menjabat sebagai Kapolda Papua, yang kemudian beliau juga ditugaskan sebagai ketua kontingen di PON Papua, sedangkan segala urusan administrasi dan juga yang berkaitan dengan pengelolaan uang PON adalah di PB PON,” sambungnya.
Kata Steve, tugas Matius Fakhiri saat itu hanya mengkoordinasikan pengamanan di lapangan dan kontingen PB PON, tidak ada urusan dengan dana PON, apalagi penggunaan uang tersebut.
“Sehingga, saya pastikan bahwa informasi tersebut adalah upaya yang dilakukan kelompok tertentu untuk merusak citra dan martabat Matius Fakiri di kalangan Masyarakat,” ujarnya.
Steve pun minta masyarakat harus pandai melihat isu yang sengaja disebarkan di lapangan untuk mencari-cari perhatian publik seakan-akan Matius Fakhiri adalah seorang penjahat padahal Matius Fakhiri melakukan banyak hal baik untuk masyarakat Papua.
“Matius Fakhiri mengusahakan orang Papua sejahtera dengan mendorong kebijakan afirmasi, mengirim 2.000 setiap tahun untuk menjadi Polisi yang dimulai tahun 2021 hingga 2028 nanti,” katanya.
Selain itu kata Steve, Matius Fakhiri juga mendirikan sanggar tari untuk kegiatan seni, membangun semangat anak muda dalam dunia musik dengan mendirikan studio musik, aktif melaksanakan diskusi dengan pemuda dari tingkat Provinsi hingga distrik, mendorong kebijakan Papua Damai, sertai banyak kebijakan baik lainnya yang telah dilakukan oleh MDF sebelumnya.
“Sehingga jika Matius Fakhiri diserang dengan Isu SARA dan dituduh Korupsi secara terus menerus, itu menjadi tindakan tidak sportif dan tim hukum kami sedang melakukan kajian dan akan mengambil langkah-langkah hukum,” pungkasnya. (*)










Tinggalkan Balasan