Lumpuhnya layanan ini berdampak luas, dengan total 47.415 pengguna terdampak dan ratusan site BTS sempat mengalami gangguan. Sejumlah operator besar seperti Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison ikut terkena imbas.
General Manager Witel Papua Antonius Joko Sritomo mengakui gangguan tersebut menyebabkan penurunan kapasitas jaringan yang berdampak pada berbagai layanan, mulai dari internet, IPTV hingga layanan data korporat.
“CLS Amai merupakan titik terminasi jaringan kabel laut Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Papua Utara (PATARA),” kata Antonius dalam keterangannya di Jayapura.
Ia menjelaskan, manajemen TelkomGroup telah melakukan investasi teknis secara menyeluruh dalam menangani gangguan layanan telekomunikasi digital tersebut, termasuk mengaktifkan jalur cadangan.
“Selama proses penanganan berlangsung, TelkomGroup telah mengaktifkan jalur cadangan melalui sistem kabel laut alternatif guna menopang layanan sementara, dengan prioritas kapasitas jaringan yang difokuskan pada layanan publik khususnya jaringan mobile agar komunikasi masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.
Menurut Antonius, tim teknis juga telah melakukan penggantian perangkat penguat sinyal di lokasi CLS Amai sebagai bagian dari langkah penanganan utama atas kendala teknis yang terjadi.
Dengan selesainya penggantian perangkat tersebut, lanjut dia, kondisi layanan di wilayah Jayapura kini telah kembali normal dan seluruh layanan dapat diakses sebagaimana mestinya.
“TelkomGroup tetap melakukan monitoring secara intensif guna memastikan stabilitas layanan tetap terjaga serta meminimalkan potensi gangguan serupa di kemudian hari dan memohon maaf atas ketidaknyamanan yang sempat dialami pelanggan,” katanya.
Di sisi lain, dampak gangguan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Martina, warga Kota Jayapura, mengaku terkejut saat telepon pintarnya tiba-tiba kehilangan akses internet di tengah aktivitas penting di rumah sakit.
“Saat itu ibu saya sedang menunggu surat untuk ke poli guna memeriksa kesehatannya, namun tiba-tiba sinyal hilang hingga menyebabkan layanan terganggu dan harus menunggu beberapa jam hingga sinyal kembali normal,” ujarnya.
Peristiwa ini terjadi saat ia mendampingi keluarganya berobat di Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura, dan berdampak langsung pada proses administrasi pelayanan kesehatan yang ikut tertunda.
Sebelumnya, gangguan mulai terjadi sekitar pukul 08.47 WIT di wilayah jaringan NOP Jayapura. Dari total 405 site BTS yang terdampak, sebanyak 403 telah pulih, sementara dua lainnya masih dalam proses perbaikan.
Investigasi awal mengungkap dua sumber gangguan utama, yakni masalah pada Sistem Kabel Komunikasi Laut (SKKL) jalur Sorong–Jayapura sejak akhir Maret, serta dugaan putusnya kabel fiber optik di jalur darat Sarmi–Jayapura.
Gangguan ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur backbone telekomunikasi di Papua. Ketergantungan pada jalur kabel laut dan fiber optik tanpa redundansi memadai membuat gangguan di satu titik kritis dapat melumpuhkan layanan komunikasi secara luas dalam waktu singkat. (*)
Tinggalkan Balasan