Mama Yasinta Moewend Akui Pernah Diajak Aksi Tolak PSN, Kini Merasa Dijebak Untuk Film “PESTA BABI”
BATASPAPUA.COM, MERAUKE — Tokoh masyarakat adat perempuan dari Suku Malind, Papua Selatan, Yasinta Moewend, mengaku kecewa dan merasa dimanfaatkan dalam produksi film dokumenter berjudul “Pesta Babi” yang belakangan diputar di sejumlah daerah, termasuk Jayapura. Dirinya menegaskan dirinya tidak pernah memberikan izin ataupun mengetahui proses produksi film yang menampilkan wajah dan identitasnya tersebut.
Perempuan asal Distrik Iwaya, Kampung Gugitel, Kabupaten Merauke itu menyebut dirinya baru mengetahui keberadaan film tersebut saat menghadiri pemutaran di Jayapura pada April lalu. Ia mengaku terkejut karena wajahnya dijadikan ikon utama dalam materi promosi tanpa persetujuan.
“Saya kaget waktu mereka putar film itu di Jayapura. Kok saya ditampilkan ke depan? Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat? Semua ditampilkan tanpa sepengetahuan dan izin saya,” ujar Yasinta, Minggu (24/5/2026).
Perempuan yang juga akrab dipanggil Mama Yasinta ini menegaskan dirinya tidak pernah menjalani sesi wawancara khusus untuk kebutuhan film dokumenter tersebut. Ia juga membantah pernah menandatangani persetujuan terkait penggunaan gambar maupun keterlibatannya dalam produksi film.
“Saya tidak wawancara untuk film itu. Saya tidak tahu mereka buat kapan. Saya sumpah demi Tuhan, saya tidak tahu soal film Pesta Babi itu,” katanya.
Menurutnya, keterlibatannya bermula ketika dirinya diajak sejumlah pihak untuk menyuarakan aspirasi penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke. Saat itu, ia mengaku tidak memahami secara utuh agenda yang dijalankan.
Ia menceritakan pada 2024 dirinya dijemput dari kampung dan dibawa ke Merauke sebelum kemudian diterbangkan ke Jakarta. Dalam perjalanan itu, Mama Yasinta mengaku beberapa kali diajak mengikuti aksi demonstrasi dan mendatangi sejumlah lembaga negara seperti Komnas HAM, Komnas Perempuan, Komnas Anak hingga Mahkamah Konstitusi.
“Di atas pesawat saya sudah panik. Saya berpikir, kita mau bicara apa di Jakarta? Sampai di sana baru mereka bilang besok ikut aksi Kamisan di depan Istana Presiden,” ujarnya.
Selama menjalani rangkaian perjalanan tersebut, Yasinta mengaku telah enam kali diterbangkan ke Jakarta, tiga kali ke Makassar dan dua kali ke Jayapura. Namun ia menilai tidak pernah mendapatkan manfaat nyata dari seluruh aktivitas yang dijalaninya.
“Yang saya dapat cuma capek saja. Rumah saya juga tidak layak, tapi tidak pernah ada bantuan. Saya minta beli HP saja tidak dipenuhi,” katanya.
Dalam pengakuannya, Mama Yasinta menyebut dirinya merasa dijebak dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ia menduga ada pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari isu perjuangan masyarakat adat, sementara dirinya hanya dijadikan simbol dalam kampanye penolakan PSN maupun produksi film.
“Mereka manfaatkan saya. Mereka mungkin mau dapat sesuatu dari perjuangan itu, sementara saya tidak dapat apa-apa,” tuturnya.
Mama Yasinta juga mengaku malu karena wajah dan penampilannya dengan atribut adat dipertontonkan ke publik tanpa persetujuannya. Ia menilai isi film tidak pernah dibicarakan maupun dikonfirmasi kepadanya.
“Isi film itu tidak sambung dengan saya. Mereka tidak pernah bicara atau minta izin kepada saya untuk putar film itu,” katanya.
Karena merasa hak privasi dan kehormatannya dilanggar, Mama Yasinta meminta agar penayangan film “Pesta Babi” segera dihentikan.
“Film itu harus dihentikan karena tanpa izin saya. Kenapa wajah saya ditampilkan terus? Saya bukan boneka atau patung Asmat,” tegasnya.
Selain menyampaikan keberatan terhadap film tersebut, Mama Yasinta juga menggambarkan kehidupan pribadinya yang sederhana di kampung. Sebagai seorang janda, ia sehari-hari bekerja berkebun untuk menghidupi anak-anaknya.
“Saya tiap pagi pegang pacul, turun ke kebun tanam sayur sawi, kangkung dan terong untuk makan dan biaya anak-anak,” ujarnya.
Ironisnya, di tengah berbagai aktivitas yang dijalaninya, Mama Yasinta mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan yang layak. Kehidupannya sehari-hari tetap bergantung pada hasil kebun sederhana di Kampung Gugitel, Distrik Iwaya.
“Saya tiap hari bangun pagi pegang pacul, tanam sawi, kangkung, terong untuk makan anak-anak. Rumah saya sudah hampir roboh. Dinding tripleks hancur, dapur sudah tidak layak. Kompor saja rusak,” ungkapnya.
Ia juga mengaku hanya menerima uang transportasi dalam jumlah kecil selama mengikuti berbagai agenda tersebut.
“Yang saya dapat cuma capek. Uang duduk paling Rp1,5 juta sampai Rp2 juta. Tidak pernah ada bantuan untuk hidup saya,” katanya.
Bahkan, permintaan sederhana untuk membantu mengganti telepon genggam miliknya yang rusak disebut tidak pernah dipenuhi.
“HP saja saya minta tidak dibantu sampai sekarang,” ujarnya.
Mama Yasinta menilai dirinya sengaja dijadikan simbol perjuangan tanpa persetujuan dan tanpa penghormatan terhadap hak-haknya sebagai perempuan adat.
“Saya merasa dijebak dan dimanfaatkan. Mereka mungkin dapat sesuatu dari perjuangan itu, tapi saya tidak dapat apa-apa,” katanya.
Ia menegaskan isi film tersebut juga tidak pernah dibicarakan dengannya dan tidak mewakili pandangannya secara utuh.
“Isi film itu tidak sambung dengan saya. Mereka tidak pernah bicara atau minta izin untuk putar film itu,” ujarnya.
Atas dasar itu, Mama Yasinta secara terbuka menuntut agar film Pesta Babi dihentikan penayangannya dan ditarik dari peredaran.
“Saya minta film itu dihentikan. Karena tidak ada izin dari saya. Kenapa wajah saya ditampilkan terus di mana-mana? Saya bukan boneka atau patung Asmat,” tegasnya.
Pernyataan Mama Yasinta Moewend membuka dugaan serius mengenai eksploitasi figur masyarakat adat dalam kampanye politik dan produksi dokumenter tanpa persetujuan yang jelas. Kasus ini juga memunculkan sorotan terhadap etika pendampingan kelompok adat, penggunaan identitas masyarakat lokal, hingga dugaan pemanfaatan isu Papua untuk kepentingan tertentu tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang dilibatkan.(*)










Tinggalkan Balasan