Komnas HAM Temukan Enam Bekas Peluru di Rumah Ibu Hamil Tewas Tertembak di Intan Jaya
BATASPAPUA.COM, INTAN JAYA – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap temuan awal hasil investigasi lapangan terkait tewasnya Melkiana Duwitau, seorang ibu hamil yang menjadi korban penembakan di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Dalam pemeriksaan di lokasi kejadian, tim Komnas HAM menemukan sedikitnya enam bekas peluru yang bersarang di sekitar rumah korban. Temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting untuk mengungkap kronologi penembakan yang hingga kini masih dalam proses penyelidikan.
Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits S. Ramandey, mengatakan dirinya turut melakukan rekonstruksi sederhana di lokasi kejadian untuk melihat langsung kondisi rumah korban.
“Saya juga melakukan rekonstruksi di sekitar rumah tentang peristiwa penembakan. Saya melihat kurang lebih ada enam peluru yang bersarang di sekitar rumah itu,” ungkap Frits kepada wartawan, Sabtu (4/7/2026).
Dari enam proyektil yang ditemukan di sekitar rumah tersebut, satu di antaranya diduga mengenai tubuh Melkiana Duwitau. Berdasarkan pengamatan awal, korban mengalami luka tembak pada bagian bahu kanan.
“Salah satu peluru yang kuat dugaan itu terkena langsung pada ibu Melkiana. Kalau tadi sepintas saya lihat luka di bahu kanan. Sedangkan anaknya juga ada di samping situ, sudah dikeluarkan oleh pihak puskesmas (dari perut korban),” bebernya.
Selain melakukan pemeriksaan terhadap lokasi kejadian, Komnas HAM juga meminta keterangan dari warga sekitar. Dari sejumlah kesaksian yang dihimpun, warga mengaku mendengar suara letusan senjata api, namun dengan intensitas yang relatif kecil.
Temuan tersebut memunculkan dugaan awal bahwa senjata yang digunakan merupakan pistol. Meski demikian, Komnas HAM belum menarik kesimpulan akhir karena masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan.
“Ada kesaksian bahwa memang ada kontak di sekitar itu, tetapi orang-orang di sekitar mengatakan bahwa memang ada bunyi tembakan di sekitar situ dan bunyi tembakannya kecil. Diduga mereka menggunakan pistol,” ungkap Frits.
Di sisi lain, Koops TNI Habema tetap berpegang pada hasil analisis awal yang menyebut korban diduga terkena peluru nyasar dari tembakan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Peles Tigau.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menegaskan personel Satgas TNI tidak melepaskan tembakan balasan selama rangkaian insiden berlangsung.
“Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan,” tegas Wirya.
Menurutnya, kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih bertahan di posisi perlindungan (stelling) sambil memantau situasi guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil.
Wirya menjelaskan, berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, serta pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok OPM dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit.
“Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit,” tuturnya.
Ia merinci, tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.
“Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai,” ucap Wirya.
Lebih lanjut, hasil analisis spasial yang dilakukan Koops TNI Habema menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara lokasi korban disebut berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
“Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya,” paparnya.
Temuan Komnas HAM mengenai enam bekas peluru di sekitar rumah korban menjadi perkembangan penting dalam proses pengungkapan kasus ini. Di sisi lain, analisis yang disampaikan TNI juga menjadi bagian dari rangkaian penyelidikan yang masih berlangsung.










Tinggalkan Balasan