Ketika Safanpo Bersaudara Dipikul Bersama, Asmat Mengajarkan Arti Sebuah Penghormatan

Gubernur Papua Selatan, Prof. Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST, MT, bersama Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, menaiki perahu tradisional dan dipikul puluhan warga ke atas bahu mereka menuju lokasi pertemuan bersama masyarakat. Foto: Bataspapua.com/Ist

BATASPAPUA.COM, ASMAT – Pagi itu, langit Kampung Warse di Distrik Jetsy, Kabupaten Asmat, Papua Selatn, tampak bersahabat. Riak air sungai yang tenang perlahan berubah menjadi semarak ketika puluhan, lalu ratusan perahu tradisional mulai memenuhi perairan. Di atas perahu-perahu kayu yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Asmat selama berabad-abad, warga berdiri sambil mengayuh dayung dengan irama yang seolah menyatu dengan alam.

Mereka tidak sedang berburu ikan ataupun berpindah kampung. Hari itu, Sabtu (1/8/2026), mereka datang untuk menyambut tamu kehormatan Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, bersama Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, dan rombongan.

Dari kejauhan, speedboat yang membawa rombongan mulai terlihat. Seketika ratusan perahu tradisional bergerak mendekat, mengelilinginya dari sisi kiri dan kanan. Suasana berubah menjadi sebuah prosesi adat yang begitu sakral sekaligus mengharukan.

Bagi masyarakat Asmat, menyambut tamu bukan sekadar tradisi seremonial. Itu adalah ungkapan penghormatan tertinggi. Di atas air, tidak ada sirene ataupun pengawalan kendaraan. Yang ada hanyalah dayung-dayung yang bergerak serempak, mengantar tamu menuju kampung dengan penuh kebersamaan.

Sesampainya di tepian Kampung Warse, penghormatan itu belum usai.

Gubernur Apolo Safanpo bersama Bupati Thomas Eppe Safanpo dipersilakan meninggalkan speedboat dan menaiki sebuah perahu tradisional Asmat. Namun, perahu itu tidak lagi mengapung di atas air.

Dengan semangat gotong royong yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Asmat, puluhan warga mengangkat perahu tersebut ke atas bahu mereka. Perlahan, perahu dipikul menuju lokasi pertemuan bersama masyarakat.

Pemandangan itu menjadi simbol yang begitu dalam. Perahu bukan sekadar alat transportasi bagi masyarakat pesisir Asmat, melainkan lambang perjalanan hidup, persaudaraan, dan penghormatan kepada tamu. Ketika sebuah perahu dipikul bersama-sama, yang dijunjung bukan hanya tamunya, tetapi juga nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur Asmat.

Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa adat Asmat masih hidup dan dijaga dengan penuh kebanggaan. Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Warse menunjukkan bahwa identitas budaya tetap menjadi fondasi kehidupan mereka.

Dalam pertemuan bersama warga, Gubernur Apolo Safanpo menyampaikan perkembangan Provinsi Papua Selatan yang kini telah memasuki masa pemerintahan definitif setelah dimekarkan oleh pemerintah pusat melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2022.

“Sudah satu tahun Papua Selatan masuk pemerintahan definitif,” ujar Apolo Safanpo di hadapan masyarakat.

Ia menjelaskan, kehadiran Provinsi Papua Selatan diharapkan mampu mempercepat pembangunan, baik infrastruktur maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia di seluruh wilayah, termasuk daerah-daerah pesisir dan pedalaman Asmat.

Namun, di balik penjelasan mengenai pembangunan, pesan yang paling menyentuh justru ditujukan kepada para orang tua.

Gubernur mengajak seluruh masyarakat untuk terus menyekolahkan anak-anak mereka. Menurutnya, pendidikan merupakan jembatan yang akan membawa generasi muda Asmat menjadi pelaku pembangunan tanpa kehilangan identitas budaya yang mereka miliki.

Pembangunan, kata Apolo, tidak hanya diwujudkan melalui jalan, jembatan, atau gedung pemerintahan. Pembangunan sejati adalah ketika anak-anak Asmat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan tetap bangga terhadap adat istiadat leluhurnya.

Kunjungan tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda pemerintahan. Ia berubah menjadi sebuah perjumpaan budaya yang memperlihatkan eratnya hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat.

Di Kampung Warse, penghormatan tidak diukur dari kemewahan penyambutan, melainkan dari ketulusan hati. Ketika ratusan warga mengangkat sebuah perahu di atas bahu mereka, sesungguhnya mereka sedang mengangkat nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat Asmat.

Di sanalah pembangunan menemukan maknanya berjalan berdampingan dengan adat, menghormati budaya, dan tumbuh bersama masyarakat yang tetap setia menjaga warisan leluhurnya.

Penulis: Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!