Kasus Keracunan MBG di Depapre Capai 543 Orang, Didominasi Anak dan Remaja
BATASPAPUA.COM, SENTANI – Kasus dugaan keracunan pangan setelah mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, mencapai 543 kasus kumulatif hingga Jumat (7/8/2026).
Dari total tersebut, sebanyak 423 pasien telah diperbolehkan pulang, sementara 120 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Tiga di antaranya merupakan ibu hamil yang masih mendapat penanganan medis.
Bupati Jayapura, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H., memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
“Total kasus kumulatif itu 543 orang. Yang sudah pulang 423, masih dalam perawatan 120 orang. Meninggal nihil,” kata Yunus dalam jumpa pers bersama Forkopimda Kabupaten Jayapura di Distrik Depapre, Sabtu (8/8/2026).
Data pemerintah menunjukkan kelompok anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling banyak terdampak. Kasus usia 1 tahun tercatat satu orang, usia 1–4 tahun sebanyak 58 orang, usia 5–9 tahun sebanyak 132 orang, dan usia 10–14 tahun mencapai 203 orang.
Sementara kelompok usia lainnya terdiri atas usia 20–24 tahun sebanyak 26 kasus, 25–29 tahun 21 kasus, 30–34 tahun 21 kasus, 35–39 tahun enam kasus, 40–45 tahun empat kasus, 46–49 tahun empat kasus, 50–54 tahun enam kasus, 55–59 tahun empat kasus, 60–64 tahun tiga kasus dan usia 65 tahun ke atas sebanyak lima kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, perempuan menjadi kelompok terbanyak dengan 320 kasus atau 59 persen, sedangkan laki-laki sebanyak 223 kasus atau 41 persen.
Pemerintah juga mencatat sebagian warga mulai merasakan gejala setelah kembali ke rumah usai mengonsumsi makanan MBG. Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap pasien yang telah dipulangkan menjadi bagian penting dalam penanganan lanjutan.
Dari sisi sebaran wilayah, Kampung Kendate menjadi daerah dengan kasus terbanyak, yakni 125 orang. Selanjutnya Tablasupa 94 kasus, Dormena 91 kasus, Waiya/Depapre 68 kasus, Wambena 56 kasus, Amay 36 kasus, Tablanusu 19 kasus, Yewena 14 kasus, Maribu 12 kasus, Yepase 11 kasus, Yongsu empat kasus, Demokisi dua kasus, Etiyoso dua kasus dan Edokisi satu kasus.
Meski angka kumulatif mencapai 543 kasus, pemerintah menyebut kondisi di lapangan mulai membaik. Jumlah pasien yang masih menjalani perawatan juga terus mengalami penurunan.
Tenda perawatan yang sebelumnya didirikan di sekitar RS Yowari telah dilepas. Sementara pasien dari Puskesmas Depapre mulai diarahkan ke sejumlah rumah sakit rujukan berdasarkan kondisi medis masing-masing.
Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama TNI-Polri dan tim medis gabungan juga akan melakukan pemantauan langsung ke kampung-kampung terdampak. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi warga, terutama pasien yang telah diperbolehkan pulang, tetap stabil dan tidak kembali mengalami gejala.
Sejumlah fasilitas kesehatan yang terlibat dalam penanganan antara lain Puskesmas Depapre, RS Yowari, RS Dian Harapan, RSUP Jayapura, RS AB, RS Marthen Indey serta sejumlah puskesmas lainnya.
Pemantauan terhadap warga yang telah kembali ke rumah akan terus dilakukan. Pemerintah ingin memastikan tidak ada gejala lanjutan yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Jika selama masa pemantauan tidak lagi ditemukan keluhan baru, pemerintah akan menyatakan kondisi wilayah kembali normal atau masuk dalam “zona hijau”.
“Tidak sampai di situ. Pemda bersama TNI-Polri akan turun ke kampung-kampung untuk memastikan setelah mereka pulang dari rumah sakit tidak ada gejala yang kembali muncul,” tegas pemerintah.
Apabila masih ditemukan warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, tim medis akan memberikan penanganan langsung di kampung.
Pemerintah juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya. Setiap perkembangan mengenai 543 kasus dugaan keracunan MBG di Depapre akan disampaikan berdasarkan data resmi hasil penanganan dan pemantauan tim gabungan.(*)










Tinggalkan Balasan