Ibu dan Bayi dalam Kandungan Tewas di Intan Jaya, TNI Sebut Terkena Peluru Nyasar OPM
BATASPAPUA.COM, INTAN JAYA – Konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, kembali memakan korban sipil. Seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau meninggal dunia setelah terkena tembakan saat terjadi gangguan keamanan di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kamis (2/7/2026).
Bayi berusia 32 minggu yang dikandung korban juga tidak berhasil diselamatkan.
Peristiwa yang merenggut dua nyawa sekaligus ini kembali menegaskan bahwa warga sipil masih menjadi pihak yang paling rentan dalam konflik yang terus berlangsung di wilayah tersebut. Di tengah duka yang menyelimuti keluarga korban, muncul klaim dari Koops TNI Habema yang menyebut peluru yang mengenai korban berasal dari tembakan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, mengatakan berdasarkan fakta lapangan, tembakan yang menyebabkan korban berasal dari kelompok bersenjata.
“Gangguan tembakan kelompok bersenjata di Sugapa yang menyebabkan warga sipil terkena peluru nyasar. Fakta lapangan menunjukkan tembakan berasal dari tiga titik yang berbeda,” kata Wirya, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Wirya, berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, serta pemetaan lokasi, pelaku penyerangan merupakan kelompok OPM pimpinan Peles Tigau yang melepaskan tembakan dari tiga titik berbeda dalam waktu sekitar 15 menit.
“Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit,” jelasnya.
Ia memaparkan, tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.
“Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai,” tambah Wirya.
Koops TNI Habema juga menegaskan personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan selama rangkaian kejadian berlangsung. Menurut Wirya, kondisi hujan, kabut tebal, serta jarak pandang yang terbatas membuat personel memilih bertahan di posisi perlindungan atau stelling untuk meminimalkan risiko terhadap masyarakat sipil.
Hasil analisis spasial yang dilakukan TNI, lanjut Wirya, menunjukkan adanya perbedaan lokasi antara sumber tembakan dengan posisi personel Satgas TNI.
“Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI,” kata Wirya.
Menurutnya, data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya. Ia juga menilai penggunaan kawasan permukiman sebagai lokasi aktivitas kelompok bersenjata berpotensi membahayakan keselamatan warga sipil.
“Karena itu, Koops TNI Habema terus mengedepankan langkah-langkah yang terukur dan profesional agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Meski demikian, klaim mengenai asal peluru yang menewaskan Melkiana Duwitau masih memerlukan pembuktian melalui proses investigasi yang menyeluruh. Hasil analisis yang disampaikan TNI merupakan bagian dari penyelidikan awal, sementara kepastian mengenai asal proyektil maupun kronologi lengkap peristiwa membutuhkan pembuktian berdasarkan pemeriksaan forensik, balistik, serta pengumpulan seluruh fakta di lapangan.
Sementara itu, Bupati Intan Jaya Aner Maisini menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Melkiana Duwitau beserta bayi yang dikandungnya. Ia memilih tidak menyimpulkan siapa pihak yang bertanggung jawab, namun menegaskan bahwa yang paling dirugikan dalam peristiwa tersebut adalah masyarakat sipil.
“Saya tidak akan sampaikan siapa oknum atau pelaku, tetapi ada kejadian Ibu Melkiana Duwitau dengan anak dalam kandungan 32 minggu meninggal,” kata Aner Maisini kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Aner mengungkapkan korban sebenarnya sudah berada di masa-masa akhir kehamilan dan tinggal menunggu waktu untuk melahirkan. Namun harapan keluarga itu pupus akibat insiden penembakan yang terjadi di wilayah konflik.
“Dalam waktu yang dekat mau melahirkan, tetapi sudah jadi korban. Sehingga ini adalah salah satu yang sangat berduka, yang mendalam karena mama bersama dengan anak,” imbuh Aner. (*)










Tinggalkan Balasan