BATASPAPUA.COM, JAYAPURA – Laga spektakuler saat Persipura Jayapura menjamu Barito Utara di Stadion Lukas Enembe, Minggu (19/02/2026), yang seharusnya menjadi pesta sepak bola penuh kebanggaan justru menyisakan catatan memprihatinkan. Di balik kemenangan telak 4–1 yang diraih tim berjuluk Mutiara Hitam, kondisi stadion setelah pertandingan memperlihatkan wajah lain: tumpukan sampah dan ludah pinang yang berserakan di berbagai sudut tribun.
Pertandingan tersebut mencatatkan rekor jumlah penonton terbanyak Liga 2 musim ini dengan 20.270 suporter memadati stadion. Antusiasme luar biasa itu menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat Papua terhadap Persipura. Namun, tingginya jumlah penonton tidak diimbangi kesadaran menjaga kebersihan fasilitas publik.
Beberapa foto pun beredar usai pertandingan yang menunjukkan noda merah khas ludah pinang menempel di dinding tribun, lantai beton, hingga kursi penonton. Sampah plastik, bungkus makanan, dan sisa kulit pinang juga tampak berserakan tanpa penanganan langsung dari penonton yang meninggalkannya begitu saja.
Fenomena ini menyoroti kebiasaan mengunyah pinang yang memang telah menjadi bagian dari kultur masyarakat Papua. Aktivitas yang dilakukan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa itu bukan sekadar konsumsi biasa, melainkan tradisi sosial yang mengakar kuat. Dalam keseharian, banyak warga menganggap hari belum lengkap tanpa makan pinang, sehingga praktik tersebut kerap dilakukan di mana saja, termasuk ruang publik.
Tangkapan Layar Foto-Foto di Facebook.
Namun, realitas di stadion memperlihatkan dilema antara pelestarian kebiasaan budaya dan tanggung jawab menjaga fasilitas umum. Ironisnya, di sejumlah tempat seperti hotel dan bandara di Papua, sudah lama diterapkan larangan meludah pinang sembarangan—menandakan bahwa pembatasan sebenarnya bukan hal baru dan dapat diterapkan jika ada penegakan aturan yang konsisten.
Kondisi Stadion Lukas Enembe pascalaga memunculkan pertanyaan serius tentang kesiapan pengelola, panitia pertandingan, dan suporter dalam menjaga standar kebersihan venue olahraga berkelas internasional. Tanpa kesadaran kolektif, stadion megah yang dibanggakan Papua itu berisiko terus tercoreng oleh kebiasaan yang dibiarkan tanpa kontrol.
Di tengah sorotan tersebut, muncul harapan besar agar momentum tingginya animo masyarakat terhadap sepak bola juga dibarengi perubahan pola pikir penonton. Edukasi kebersihan, penyediaan fasilitas tempat sampah yang memadai, serta imbauan tegas dari panitia diharapkan mampu menumbuhkan disiplin baru di kalangan suporter.
Lebih jauh, masyarakat diharapkan dapat memisahkan antara kebiasaan budaya dan etika penggunaan ruang publik. Tradisi makan pinang tetap dapat dilestarikan sebagai identitas lokal, namun praktiknya perlu disesuaikan dengan aturan kebersihan demi kepentingan bersama.
Kemenangan besar Persipura semestinya tidak hanya menjadi kebanggaan di papan skor, tetapi juga menjadi momentum membangun citra positif Papua sebagai tuan rumah pertandingan yang tertib, bersih, dan berkelas. Kesadaran kolektif suporter menjadi kunci agar stadion kebanggaan itu tidak lagi meninggalkan noda setelah setiap pesta sepak bola. (*)
Tinggalkan Balasan