Aurelie Moeremans Soroti Hutan Papua di Ganti Sawit: Cenderawasih Kini Terbang Menjauh

Sumber : instagram.com/aurelie

BATASPAPUA.COM, JAYAPURA – Aktris sekaligus model, Aurelie Moeremans, melontarkan kritik keras terhadap kerusakan hutan di Papua yang disebutnya semakin mengkhawatirkan. Dalam unggahan di media sosial usai kunjungannya bersama World Wildlife Fund (WWF), Aurelie mengaku pulang dengan perasaan hancur setelah melihat langsung kondisi alam Papua yang terus tergerus industri ekstraktif dan ekspansi perkebunan.

“Saya tidak tahu saya akan pulang dengan hati yang hancur,” tulis Aurelie Moeremans di Instagram, Minggu (24/5).

Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan emosional seorang selebritas. Aurelie menyoroti apa yang kini menjadi ancaman serius bagi salah satu hutan hujan tropis terbesar dan paling kaya biodiversitas di dunia: pembabatan hutan dalam skala masif.

Menurut Aurelie, sekitar 2,5 juta hektare hutan hujan Papua saat ini sedang dibersihkan untuk kepentingan industri minyak kelapa sawit, perkebunan gula, hingga kebutuhan bahan bakar.

“Seluas 2,5 juta hektare hutan hujan Papua sedang dibersihkan. Untuk minyak kelapa sawit. Untuk gula. Untuk bahan bakar di dalam mobil kami,” ujar Aurelie.

Pernyataan tersebut menjadi tamparan keras terhadap praktik eksploitasi sumber daya alam yang selama ini terus berlangsung di Tanah Papua atas nama investasi dan pembangunan. Di tengah narasi pertumbuhan ekonomi, hutan-hutan adat Papua justru perlahan hilang, sementara masyarakat adat harus menghadapi ancaman kehilangan ruang hidupnya.

Aurelie juga mengisahkan pengalamannya melihat langsung burung cenderawasih atau bird of paradise di Papua. Ia mengaku selama ini hanya melihat satwa ikonik tersebut melalui foto. Namun perjumpaan itu justru membuka matanya tentang perubahan ekologis yang sedang terjadi.

“The bird of paradise terbang jauh di atas kepala saya. Sangat tinggi,” kata Aurelie.

Menurut pengakuan masyarakat lokal kepada dirinya, dahulu burung-burung tersebut terbang lebih rendah dan mudah dijumpai. Kini satwa itu semakin menjauh akibat habitatnya terus menyusut.

“Sekarang mereka terbang lebih tinggi. Lebih jauh. Karena hutan terus mengecil,” ujar Aurelie.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan Papua bukan lagi sekadar angka statistik atau laporan lingkungan, tetapi sudah berdampak nyata terhadap kehidupan satwa endemik dan masyarakat adat yang bergantung pada hutan.

Aurelie menegaskan Papua memiliki tempat istimewa di hatinya. Ia juga mengingatkan bahwa tanah Papua bukan wilayah kosong yang bebas dieksploitasi demi kepentingan korporasi dan industri global.

“Tanah ini tidak kosong. Orang-orang lahir dan mati di sini,” ucapnya.

Pernyataan Aurelie Moeremans menambah panjang daftar kritik terhadap laju deforestasi di Papua yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah gencarnya proyek perkebunan dan investasi skala besar, hutan Papua kini berada di persimpangan: dipertahankan sebagai benteng terakhir paru-paru dunia, atau terus dikorbankan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!