Terdeteksi 1.206 Titik Panas di Papua Selatan, Merauke dan Mappi Mendominasi

Tampak api yang bersumber dari sebidang lahan. Foto: Bataspapua.com/Ist

BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Stasiun Meteorologi Kelas III Mopah Merauke melaporkan hasil pemantauan sebaran titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Papua Selatan untuk periode 25 Juli 2026 pukul 02.00 WIT hingga 26 Juli 2026 pukul 01.00 WIT.

Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua, terdeteksi sebanyak 1.206 titik panas yang tersebar di empat kabupaten di Provinsi Papua Selatan. Data tersebut merupakan hasil pemantauan anomali suhu permukaan yang berpotensi mengindikasikan adanya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dari total tersebut, sebaran titik panas berdasarkan tingkat kepercayaan terdiri atas:
Kepercayaan rendah: 59 titik
Kepercayaan sedang: 1.077 titik
Kepercayaan tinggi: 70 titik

Kabupaten Merauke menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 702 titik, terdiri atas 13 titik berkepercayaan rendah, 653 titik berkepercayaan sedang, dan 36 titik berkepercayaan tinggi.
Selanjutnya, Kabupaten Mappi mencatat 470 titik, terdiri atas 45 titik berkepercayaan rendah, 393 titik berkepercayaan sedang, dan 32 titik berkepercayaan tinggi.

Sementara itu, Kabupaten Asmat terdeteksi 23 titik, terdiri atas 1 titik berkepercayaan rendah, 21 titik berkepercayaan sedang, dan 1 titik berkepercayaan tinggi. Adapun Kabupaten Boven Digoel mencatat 11 titik, terdiri atas 10 titik berkepercayaan sedang dan 1 titik berkepercayaan tinggi.

BMKG menjelaskan bahwa deteksi hotspot merupakan hasil identifikasi anomali suhu panas di permukaan bumi dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Data ini menjadi indikator awal untuk membantu pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan, namun tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan. Verifikasi lebih lanjut tetap diperlukan oleh instansi terkait.

BMKG juga mengingatkan bahwa pada wilayah yang tertutup awan atau berada di area blank zone, keberadaan hotspot kemungkinan tidak dapat terdeteksi oleh satelit. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas pembakaran lahan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditangani sejak dini.

Penulis: Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!