Pegunungan Bintang Perkuat Kerja Sama Internasional, UOP dan Papua Nugini Bangun Kolaborasi Pendidikan dan Konservasi Lingkungan

Kabupaten Pegunungan Bintang terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia dan konservasi lingkungan di Tanah Papua melalui kerja sama internasional antara Universitas Okmin Papua (UOP) dan sejumlah institusi pendidikan di Papua Nugini juga Universitas Solomon, Jumat (15/5/2026). Foto: Istimewa

BATASPAPUA.COM, PORT MORESBY – Kabupaten Pegunungan Bintang terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia dan konservasi lingkungan di Tanah Papua melalui kerja sama internasional antara Universitas Okmin Papua (UOP) dan sejumlah institusi pendidikan di Papua Nugini juga Universitas Solomon.

Kerja sama tersebut didorong Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang sebagai bagian dari strategi besar membangun kapasitas pendidikan, penelitian, serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan di kawasan Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, mengatakan kolaborasi internasional tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan pendidikan tinggi, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengalaman dan riset lintas negara terkait konservasi alam Papua.

“Inti dari kerja sama dengan Papua Nugini adalah meningkatkan kapasitas dan saling bertukar pengalaman. Kerja sama ini sangat baik karena kita dapat berbagi ilmu, mulai dari pemetaan wilayah adat hingga pengelolaan taman nasional dan ekosistem di Papua,” ujar Spei Yan Bidana kepada Bataspapua.com melalui via telepon, Senin (18/5/2026).

Menurut Spei, Pegunungan Bintang memiliki posisi strategis sebagai kawasan hulu bagi sejumlah daerah aliran sungai (DAS) besar di Papua yang memiliki pengaruh penting terhadap keberlangsungan ekosistem lintas wilayah bahkan lintas negara.

Ia menjelaskan, sedikitnya terdapat lima DAS besar di Papua yang berhulu di Pegunungan Bintang dan mengalir hingga ke berbagai wilayah di Papua maupun Papua Nugini, seperti Sungai Fly, Sungai Digul, hingga Sungai Mamberamo.

“Ada lima DAS besar di Papua yang berhulu di Pegunungan Bintang. Karena itu kami ingin meyakinkan dunia bahwa Pegunungan Bintang adalah jantung dan pusat air di Tanah Papua yang harus dilindungi dan dilestarikan,” katanya.

Spei menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya air dan lingkungan tidak mengenal batas administratif maupun batas negara. Oleh sebab itu, dibutuhkan kolaborasi internasional berbasis riset ilmiah untuk menjaga keberlanjutan ekosistem Papua di masa depan.

“Air melintasi batas daerah bahkan negara. Karena itu konsep lingkungan berkelanjutan menjadi sangat penting bagi masa depan generasi kita,” ujarnya.

Selain UOP, sejumlah perguruan tinggi lain di Papua juga mulai membangun kerja sama akademik dengan universitas di Papua Nugini, seperti Universitas Cenderawasih dan UNIPA.

Kolaborasi tersebut meliputi penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga pengembangan kajian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati Papua yang dikenal sebagai salah satu kawasan hutan tropis terbesar yang masih tersisa di dunia.

Spei menyebut kerja sama lintas negara ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Papua sekaligus memperluas jaringan pendidikan internasional bagi generasi muda di Pegunungan Bintang.

“Ke depan mahasiswa Papua bisa belajar di universitas di Papua Nugini, begitu juga sebaliknya. Ini adalah langkah besar untuk membangun SDM Papua sejak sekarang,” ungkapnya.

Ia menilai Papua memiliki kekayaan hayati yang luar biasa dan masih banyak spesies tumbuhan maupun satwa yang belum teridentifikasi secara ilmiah. Karena itu, riset dan kolaborasi internasional sangat diperlukan untuk mendukung upaya konservasi.

“Kita harus membangun dari sekarang. Banyak potensi alam Papua yang belum ditemukan dan perlu diteliti agar bisa dilestarikan untuk generasi mendatang,” katanya.

Lebih lanjut, Spei menegaskan bahwa Pegunungan Bintang memiliki posisi strategis secara geografis karena berada di tengah kawasan Papua dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Hal tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk menjadikan Pegunungan Bintang sebagai pusat pengembangan pendidikan dan penelitian internasional di kawasan timur Indonesia.

“Tinggal menunggu konektivitas jalan. Pegunungan Bintang sangat strategis dan bisa menjadi garda depan pengembangan SDM Papua melalui jaringan internasional,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan hutan Papua yang saat ini menjadi salah satu kawasan hutan tropis terbesar yang masih utuh di dunia bersama hutan Amazon di Brasil dan hutan Kongo di Afrika.

“Di banyak negara lain hutannya sudah rusak. Hutan besar yang masih tersisa sekarang ada di Kongo, Brasil, dan Papua. Karena itu kita harus menjaga dan melestarikannya bersama untuk dunia,” tegas Spei.

Menurutnya, universitas memiliki peran penting dalam membangun fondasi ilmiah untuk mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan di Papua.

“Kalau ingin maju ke depan, kita harus punya analisa yang kuat, kajian yang kuat, dan dasar ilmiah yang kuat,” pungkasnya.

Kerja sama internasional yang dibangun Universitas Okmin Papua bersama Papua Nugini diharapkan menjadi tonggak baru pengembangan pendidikan, riset, dan konservasi lingkungan di Tanah Papua, sekaligus mengangkat nama Pegunungan Bintang sebagai pusat strategis pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian alam dunia.

Penulis: Josua/Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!