Perbedaan Klaim Korban Tewas antara KKB Papua dan TNI Pasca Insiden Berdarah di Maybrat
BATASPAPUA.COM, SORONG – Perbedaan klaim jumlah korban tewas mencuat setelah insiden kontak tembak antara aparat TNI dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua di Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya yang terjadi pada Minggu, (22/3/2026).
Kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyatakan bertanggung jawab atas penyerangan terhadap patroli militer di Kampung Sori. Dalam siaran pers berbentuk video yang dirilis Rabu (25/3/2026), mereka mengklaim delapan prajurit TNI tewas dalam penyergapan yang disebut terjadi di dua titik berbeda.
“Kami berhasil menembak anggota teroris delapan orang. Mereka meninggal di tempat. Enam orang di depan pos, Pos Menir. Dua orang di jalan besar, jalan umum, jalan aspal. Jadi jumlah keseluruhan delapan orang,” kata Komandan Operasi Kowip II, Rumana Samuel Asem.
Pernyataan tersebut secara langsung menantang versi resmi aparat keamanan yang sebelumnya menyebut jumlah korban lebih sedikit. Dalam pernyataannya, Asem bahkan mendesak pimpinan militer dan pemerintah pusat untuk mengakui adanya korban sesuai klaim pihaknya.
“Di sini saya menyampaikan kepada Panglima TNI dan Presiden. Anda harus mengaku, karena Anda punya pasukan yang menjadi korban. Jangan berbohong di media,” ujarnya.
Berbeda dengan klaim kelompok bersenjata, informasi yang dihimpun dari pihak militer menyebutkan baku tembak terjadi saat pasukan TNI yang tergabung dalam Satgas Koops Habema menjalankan patroli rutin di wilayah rawan konflik. Saat melintas di Kampung Sori, aparat diduga disergap kelompok bersenjata yang telah lebih dulu mengintai pergerakan mereka.
Dalam insiden tersebut, dua prajurit Marinir dilaporkan gugur di tempat, yakni Prada Marinir Elki Saputra dari Batalion Marinir 10 dan Prada Marinir Andi Suvio dari Batalion Marinir 7. Sementara itu, satu prajurit lainnya, Kopda Marinir Eko Sutikno dari Batalion Marinir 7, mengalami luka berat.
Komandan Korem 181/Praja Vira Tama Brigjen TNI Slamet Riyadi mengatakan pihaknya telah meningkatkan kewaspadaan pasca-insiden tersebut. Langkah pemetaan wilayah rawan dan penguatan pengawasan di lapangan dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan lanjutan.
“Setelah kejadian ini, kami meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemetaan wilayah rawan, serta memperketat pengawasan di lapangan,” ujarnya saat ditemui di RSAL Dr. R. Oetojo, Kota Sorong, Minggu (22/3).
Ia menjelaskan, koordinasi antar-satuan terus diperkuat, termasuk dengan Satuan Tugas Operasi Habema yang di dalamnya terdapat prajurit dari Batalion Marinir 10. Menurutnya, pembagian sektor operasi memungkinkan respons cepat jika terjadi gangguan keamanan.
“Koordinasi terus kami lakukan dengan Satgas Habema. Dengan pembagian sektor yang ada, setiap potensi gangguan dapat segera direspons,” katanya.
Selain itu, TNI juga mempertimbangkan penambahan maupun pergeseran pasukan serta penguatan fungsi intelijen untuk memperkuat pengamanan di wilayah yang dikategorikan rawan.
“Penambahan pasukan sedang direncanakan, termasuk penguatan intelijen. Informasi dari masyarakat dan aparat intelijen akan terus kami kembangkan,” ujarnya.
Terkait pelaku penyerangan, pihak militer mengaku telah mengantongi indikasi awal, namun detailnya akan disampaikan setelah data di lapangan dinilai benar-benar valid.
Di sisi lain, kelompok bersenjata juga mengakui mengalami kerugian dalam kontak tembak tersebut. Rumana Samuel Asem menyebut Wakil Komandan Operasi Batalion Boya, Alfons Sorri, termasuk dalam korban di pihak mereka.
Perbedaan klaim jumlah korban ini memperlihatkan kontras narasi antara kedua pihak yang terlibat konflik. Minimnya akses verifikasi independen di wilayah Aifat Selatan membuat kepastian jumlah korban sulit dipastikan dalam waktu cepat, sekaligus berpotensi memicu perang informasi di tengah situasi keamanan yang masih tegang di Papua Barat Daya.
Di tengah polemik tersebut, pihak TNI menegaskan insiden ini tidak akan mengurangi soliditas dengan Polri dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah, sembari menyampaikan duka cita atas gugurnya dua prajurit TNI AL yang sedang menjalankan tugas operasi negara.(*)










Tinggalkan Balasan