Ini Pesan Wagub Paskalis Untuk Wisudawan S1 Angkatan XXXIX STIA-KD Merauke

Sekolah Tinggi Administrasi Kary Dharma (STIA-KD) Merauke menggelar sidang senat terbuka luar biasa wisuda program sarjana strata (S1) angkatan XXXIX tahun 2025 di Merauke, Sabtu (14/6/2025).

BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Sekolah Tinggi Administrasi Kary Dharma (STIA-KD) Merauke menggelar sidang senat terbuka luar biasa wisuda program sarjana strata (S1) angkatan XXXIX tahun 2025 di Merauke, Sabtu (14/6/2025).

Sidang senat tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Dr. Suriel Semuel Mofu, S.Pd., M.Ed., TEFL., M.Phil. (Oxon), Ketua STIA-KD Herman CMS Rumus. SE. M.AP, Waket 1 Dr. Maria Regilnadis S.sos., M. Si, Waket 2 Yokbet Gewaljay S. Sos. M. AP, Waket 3 Agus Mulyono. S.sos., M.sc, Ketua Jurusan Dr. College Maskikit S.sos.

Di kesempatan itu, wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, mengajak para sarjana lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Karya Dharma Merauke untuk berperan aktif dalam pembangunan yang berlandaskan pada kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Papua Selatan.

Menurutnya, pembangunan yang dilakukan di wilayah Papua Selatan harus melibatkan masyarakat adat secara aktif dan bermartabat, mulai dari perencanaan hingga implementasi program. Ia menekankan pentingnya mendengarkan langsung aspirasi masyarakat, terutama terkait kebutuhan dasar dan nilai-nilai budaya yang perlu diangkat dalam kebijakan pembangunan.

“Perlu mendengar langsung dari masyarakat adat apa kebutuhan dasar mereka. Kita juga harus mengangkat hal-hal yang membuat mereka bisa terlibat aktif dalam pembangunan,” ujarnya.

Paskalis menyayangkan masih minimnya pelibatan masyarakat adat dalam pembangunan, bahkan dalam beberapa kasus cenderung terpinggirkan oleh kebijakan di tingkat pusat maupun daerah.

Ia mengajak para alumni STIA yang nantinya mengabdi di pemerintahan, agar menjalin sinergi dengan para pemangku adat, tokoh masyarakat, serta orang-orang tua di kampung untuk menggali dan menghidupkan kembali warisan budaya.

“Semangat pembangunan harus sejalan dengan pelestarian budaya. Lagu-lagu tradisional yang dulu dinyanyikan untuk meninabobokan anak, kini hampir tak terdengar lagi. Generasi muda lebih akrab dengan lagu-lagu modern seperti reggae dan ‘daboy’,” ujarnya.

Ia berharap para sarjana muda ini dapat menjadi agen perubahan dengan membangkitkan kembali identitas budaya Papua Selatan, termasuk dalam bentuk karya seni dan tradisi lisan. Paskalis juga mengingatkan pentingnya sejarah dan kontribusi wilayah selatan Papua dalam dinamika nasional, termasuk dalam proses Pepera yang pernah dimulai melalui kajian di wilayah ini.

“Papua Selatan memiliki potensi besar sebagai ruang damai bagi berbagai etnis dan budaya. Mari jadikan adat istiadat sebagai ikon pembangunan, karena di dalamnya diajarkan nilai kebaikan dan kemaslahatan bersama,” tegasnya. (AL/ADM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!