BIAN Project PT BIA Perkuat Konservasi Danau Bian dan Pemberdayaan 1.748 Warga di Delapan Kampung Di Merauke
BATASPAPUA.COM, MERAUKE – PT Bio Inti Agrindo (PT BIA) terus memperkuat komitmennya terhadap perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui BIAN Project, sebuah program yang memadukan konservasi Suaka Margasatwa Danau Bian dengan pemberdayaan masyarakat di delapan kampung.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam konsultasi publik BIAN Project yang digelar di Merauke, Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini dihadiri Presiden Direktur PT BIA Kong Byoung Sun, Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah, Kepala BBKSDA Papua Johni Santosa, unsur pemerintah, pemerintah distrik dan kampung, masyarakat adat, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Program BIAN Project PT BIA, Renate R. T. Rahaor, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan kebijakan No Deforestation, No Peatland and No Exploitation (NDPE) serta prinsip-prinsip keberlanjutan yang mengacu pada panduan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
“BIAN Project memiliki lima pendekatan,” kata Renate.
Kelima pendekatan tersebut meliputi dukungan terhadap pengelolaan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemberian penghargaan atau insentif konservasi, pengelolaan kebakaran secara terintegrasi, serta advokasi praktik pengelolaan terbaik.
Menurut Renate, BIAN Project mulai diinisiasi sejak 2021. Pada tahap awal, PT BIA membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah distrik, pemerintah kampung dan masyarakat, sekaligus melakukan konsultasi publik.
PT BIA juga menyatakan telah menerapkan pendekatan Free, Prior and Informed Consent (FPIC) sebelum menjalankan program di delapan kampung yang menjadi wilayah BIAN Project.
Pada 2022, PT BIA menandatangani nota kesepahaman kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Merauke yang disebut berlaku hingga 2027.
Kemitraan kemudian diperkuat pada 2023 melalui kerja sama PT BIA dengan BBKSDA Papua untuk mendukung pengelolaan dan memperkuat fungsi kawasan konservasi Suaka Margasatwa Danau Bian.
Pada tahap tersebut, PT BIA juga melakukan kajian awal mengenai kondisi kesehatan, sosial dan ekonomi masyarakat serta menyusun roadmap pengembangan program di delapan kampung.
Memasuki 2024, program BIAN Project berkembang melalui pembentukan kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA), pembentukan Badan Usaha Milik Kampung di tiga kampung, kajian konservasi, serta pemantauan satwa endemik dan burung migran.
Di sektor sosial, PT BIA juga menjalankan program kesehatan untuk mendukung upaya pengurangan stunting serta program pendidikan dasar melalui kegiatan baca, tulis dan hitung atau Calistung.
Pada 2025, PT BIA mengembangkan integrasi Smart Patrol dengan FIAT sebagai alat bantu pemantauan keanekaragaman hayati. Perusahaan juga melakukan kajian hukum adat terkait pengelolaan sumber daya alam serta monitoring dan evaluasi kawasan bernilai konservasi tinggi.
Sementara pada 2026, fokus program diarahkan pada peningkatan kapasitas kelompok MMP dan MPA, termasuk pelatihan penggunaan GPS untuk mendukung pemantauan kawasan.
PT BIA juga melakukan pemantauan kualitas air sebanyak dua kali dalam setahun. Hasil pengujian laboratorium kemudian disampaikan kepada masyarakat sebagai bagian dari keterbukaan informasi dan upaya bersama menjaga sumber air.
Pendampingan ekonomi dan program kesehatan juga terus dilanjutkan di delapan kampung. BIAN Project turut mengembangkan skema insentif konservasi bagi masyarakat yang berkomitmen menjaga kawasan serta mendorong pembentukan peraturan kampung mengenai pengelolaan sumber daya alam.
Renate menjelaskan, wilayah BIAN Project mencakup sekitar 110.463 hektare, meliputi delapan kampung yang berada di Distrik Ulilin dan Distrik Muting.
Berdasarkan data baseline yang dipaparkan dalam konsultasi publik, terdapat 371 kepala keluarga dengan total 1.748 jiwa yang berada di delapan kampung tersebut. Sementara jumlah anak yang menjadi bagian dari pemantauan program mencapai 1.098 anak.
Dukungan PT BIA terhadap masyarakat juga dilakukan melalui penyediaan sarana pendidikan dan fasilitas sosial.
Perusahaan menyediakan tiga taman kanak-kanak, tiga sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama. PT BIA juga membangun tiga masjid di tiga estate sebagai bagian dari dukungan terhadap kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Di sektor infrastruktur, perusahaan membangun Jembatan Bian dan Jembatan Mandong yang menjadi penghubung aktivitas masyarakat dan karyawan sekaligus mendukung akses transportasi masyarakat dari kampung-kampung sekitar.
Kepala BBKSDA Papua Johni Santosa mengatakan Suaka Margasatwa Danau Bian memiliki fungsi penting dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Menurutnya, kawasan konservasi tersebut memiliki hubungan panjang dengan masyarakat adat, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam. Karena itu, aspek perlindungan kawasan harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak dan keberadaan masyarakat adat.
“Kerusakan kawasan konservasi Danau Bian tidak hanya berdampak terhadap keanekaragaman hayati, tetapi juga terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.
Johni juga menyoroti kondisi kekeringan yang berlangsung sekitar 2,5 bulan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kondisi tersebut telah menyebabkan persediaan air di sejumlah kampung menipis sekaligus meningkatkan risiko kebakaran.
Karena itu, BBKSDA Papua terus membangun kerja sama dengan PT BIA, pemerintah daerah, pemerintah distrik dan pemerintah kampung dalam menjaga kawasan konservasi.
Johni menegaskan masyarakat adat tidak boleh ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan.
“Kita ingin masyarakat adat tetap menjadi subjek pengelolaan dan menjadi mitra dalam mengelola Danau Bian,” katanya.
Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah mengapresiasi pelaksanaan konsultasi publik BIAN Project. Namun, ia mengingatkan agar forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Menurut Fauzun, pembangunan Merauke membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Ia mengapresiasi berbagai program PT BIA dalam pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun, program tersebut harus dilaksanakan secara berkelanjutan melalui pendampingan, transparansi dan prinsip keadilan serta tetap menghormati hak dan kearifan masyarakat adat.
“Kegiatan konsultasi publik ini tidak hanya sekadar acara seremonial,” katanya.
Fauzun juga mendorong PT BIA memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan adalah petani karet, sehingga hasil produksi masyarakat dapat terserap dan memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi di kampung.
Ia berharap konsultasi publik menghasilkan program konkret yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia dan penguatan ekonomi kampung.
Presiden Direktur PT BIA Kong Byoung Sun mengatakan kondisi kekeringan yang berlangsung panjang menjadi tantangan bersama bagi perusahaan maupun masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan langkah bersama untuk melindungi hutan dan sumber air, mencegah kebakaran, serta menjaga habitat satwa dan keseimbangan ekosistem di sekitar kawasan Danau Bian.
PT BIA, kata Kong, terus menjalankan berbagai kegiatan bersama pemerintah dan masyarakat, termasuk melalui kelompok MMP dan MPA yang menjadi bagian penting dalam upaya pengawasan dan pencegahan kebakaran.
“Masyarakat merupakan mitra penting dalam konservasi karena pengetahuan dan pengalaman lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan,” katanya.
Kong menegaskan PT BIA tetap menjalankan program pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat di delapan kampung yang menjadi wilayah BIAN Project.
Ia berharap konsultasi publik tersebut tidak hanya menjadi ruang menyampaikan laporan program, tetapi juga menghasilkan masukan terbuka serta kerangka kerja sama yang konkret.
“Harapannya, kita dapat memperkuat perlindungan hutan dan sumber air, mencegah kebakaran, menjaga habitat satwa dan ekosistem, sekaligus meningkatkan penghidupan masyarakat,” ujarnya.
Melalui BIAN Project, PT BIA menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Konservasi Danau Bian tidak hanya diarahkan untuk menjaga kawasan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memastikan masyarakat adat dan warga di delapan kampung memperoleh ruang untuk berkembang dan menjadi bagian utama dalam menjaga masa depan kawasan tersebut.
Penulis: Jamal Y.Bwariat










Tinggalkan Balasan