80 Petani Kopi Muting Merauke Ikuti FGD Perancangan Model Bisnis dan Peta Jalan Hilirisasi
BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Sebanyak 80 petani yang tergabung dalam empat kelompok tani kopi Muting mengikuti Forum Group Discussion (FGD) Perancangan Model Bisnis dan Peta Jalan Hilirisasi Kopi Muting di Kampung Seed Agung, Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Minggu (6/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi, yang melibatkan dosen dan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM). Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara petani, akademisi, dan penggiat kopi untuk membahas arah pengembangan komoditas kopi Muting, khususnya dalam aspek model bisnis dan hilirisasi.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM Kopi Muting, Moh. Wahyudin, S.T.P., M.Sc., Ph.D., hadir bersama Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM Green Economy, Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang akademik dan pengalaman di bidang pengembangan pertanian serta kopi Muting. Mereka adalah Dr. Wagiman, S.T.P., M.Si., Dosen Teknologi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada; Dr. Jefri Sembiring, S.P., M.Si., Plt. Kepala Jurusan Agroteknologi Universitas Musamus; serta Aiptu Jasman Tristanto, S.Sos., Kanit Bintibsos sekaligus penggiat Kopi Muting.
Pembahasan FGD diarahkan pada upaya memetakan potensi dan kondisi pengembangan kopi Muting, sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi petani. Salah satu fokus utama adalah bagaimana komoditas kopi dapat dikembangkan tidak hanya sebagai produk bahan baku, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui proses hilirisasi.
Para petani diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman, kondisi produksi, kebutuhan, serta berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam pengembangan kopi. Masukan tersebut menjadi bagian dari bahan pembahasan dalam merancang model bisnis yang dapat disesuaikan dengan kondisi lokal.

Dari sisi akademik, pengembangan kopi Muting juga dipandang perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari aspek budidaya, pascapanen, pengolahan, kelembagaan petani, pemasaran hingga pengembangan produk. Pendekatan tersebut diperlukan agar rencana hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi turut memperhatikan peningkatan nilai ekonomi bagi petani.
Kehadiran unsur akademisi UGM dan Universitas Musamus dalam forum tersebut diharapkan dapat memperkuat proses penyusunan peta jalan pengembangan kopi Muting berdasarkan kondisi dan potensi yang ada di lapangan.
Sementara itu, keterlibatan empat kelompok tani dan puluhan petani menjadi bagian penting dalam proses penyusunan rencana tersebut. Perspektif petani dinilai diperlukan agar model bisnis yang dirancang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi dapat mempertimbangkan realitas usaha tani dan kebutuhan masyarakat di Distrik Muting.
FGD ini menjadi salah satu tahapan dalam pembahasan pengembangan Kopi Muting melalui pendekatan kolaboratif antara petani, akademisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Melalui pertemuan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi bersama unsur akademisi dan para petani Muting membahas dasar pengembangan model bisnis serta peta jalan hilirisasi Kopi Muting, dengan harapan potensi kopi lokal tersebut dapat dikembangkan secara lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat petani.
Penulis: Jamal Bwariat










Tinggalkan Balasan