FDS XV Dibuka, Gubernur Fakhiri Dorong Festival Danau Sentani Jadi Gerakan Pelestarian Budaya
BATASPAPUA.COM, SENTANI — Gubernur Papua Matius Derek Fakhiri menegaskan Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Festival budaya terbesar di Kabupaten Jayapura itu harus menjadi panggung persaudaraan, pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Papua.
Penegasan tersebut disampaikan Fakhiri saat membuka Pra Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 di Kabupaten Jayapura. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan festival, mulai dari pemerintah, masyarakat, komunitas budaya, tokoh agama, hingga berbagai komunitas dan pelaku ekonomi kreatif.
Mengusung tema “Budayaku Adalah Hidupku”, Fakhiri menilai FDS XV membawa pesan kuat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas dan jati diri yang harus tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“FDS XV tahun 2026 mengangkat tema ‘Budayaku Adalah Hidupku’. Tema ini memiliki makna penting dalam memperkuat kesadaran masyarakat bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan identitas dan jati diri yang harus terus hidup, berkembang, serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Fakhiri.
Menurutnya, kekuatan FDS bukan hanya terletak pada pertunjukan seni dan budaya, tetapi pada kemampuan festival tersebut mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.
Fakhiri mengajak seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan menjadikan Festival Danau Sentani sebagai ruang bersama untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menunjukkan wajah Papua yang damai, terbuka, dan kaya akan keberagaman.
“Festival Danau Sentani harus menjadi panggung persaudaraan, panggung kebudayaan, sekaligus panggung kemajuan Papua,” tegasnya.
Ia menekankan, FDS tidak boleh berhenti pada kemeriahan festival. Momentum tersebut harus diarahkan menjadi gerakan bersama untuk menjaga warisan budaya sekaligus melindungi lingkungan Danau Sentani yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Festival Danau Sentani tidak boleh hanya berhenti sebagai sebuah perayaan tahunan, tetapi harus dikembangkan menjadi gerakan bersama untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan Danau Sentani,” ujarnya.
Fakhiri juga melihat FDS sebagai peluang strategis untuk memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengembangan pariwisata berbasis budaya, ekonomi kreatif, UMKM, kerajinan, kuliner, hingga produk lokal dinilai harus menjadi bagian penting dari penyelenggaraan festival.
Dengan demikian, festival tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menciptakan ruang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
Di sisi lain, partisipasi lintas kerukunan dalam FDS XV dinilai menjadi kekuatan tersendiri. Menurut Fakhiri, keberagaman agama, budaya, dan komunitas yang hadir dalam festival merupakan gambaran Papua yang mampu hidup dalam harmoni.
“Kebersamaan dan kolaborasi yang ada di FDS ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya, agama, dan komunitas dapat menjadi kekuatan dalam membangun persatuan di Tanah Papua,” tuturnya.
Fakhiri menegaskan, Pemerintah Provinsi Papua akan terus mendorong kegiatan yang mampu memperkuat identitas budaya sekaligus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Papua untuk mewujudkan transformasi Papua yang cerdas, sejahtera, dan harmoni.
“Saya berharap semangat kebersamaan yang terbangun melalui FDS XV dapat terus dijaga dan menjadi kekuatan bersama untuk merawat budaya, lingkungan, persaudaraan, sekaligus mendorong kemajuan masyarakat Papua,” pungkasnya.(*)













Tinggalkan Balasan