Hampir 1.000 Hektare Sawah di Merauke Kekurangan Air, 80 Persen Terancam Gagal Panen
BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Petani di Kampung Amun Kay, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan menghadapi ancaman gagal panen akibat minimnya pasokan air irigasi selama musim kemarau. Mereka meminta pemerintah segera melakukan normalisasi saluran primer yang dipenuhi gulma agar air pasang dari Kali Maro dapat kembali mengaliri areal persawahan di kampung tersebut.
Salah seorang petani di Kampung Amun Kay, Margono, mengungkapkan, luas persawahan di kampung tersebut kurang lebih 900 Hektare atau hampir mencapai 1000 Hektare. Ironisnya, dari total luasan tersebut 80 persen tanaman padi milik petani Amun Kay terancam gagal panen akibat tidak ada pasokan air di saluran primer kampung Amun Kay di musim panen kali ini.
Sejak Mei 2026 hingga saat ini tak ada turun hujan. Kondisi tersebut membuat petani sepenuhnya bergantung pada sistem pasang surut yang bersumber dari Kali Maro melalui Binalahan dan Kali Neto.
“Sejak bulan Mei sampai sekarang hampir tidak ada hujan. Harapan petani hanya air pasang surut yang datang dari Kali Maro melalui Binalahan dan dari Kali Neto. Namun sampai sekarang air tidak kunjung masuk ke sawah wilayah kami khususnya Amun Kay SP8,” ujar Margono kepada wartawan di sawahnya, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, persoalan utama bukan semata-mata musim kemarau, melainkan kondisi saluran primer yang dipenuhi gulma dan tumbuhan liar sehingga menghambat aliran air menuju lahan pertanian.
Ia menjelaskan, saluran primer dari wilayah Kali Neto hingga Kampung Amun Kay, maupun dari Binalahan menuju Kampung Amun Kay, saat ini mengalami pendangkalan dan dipenuhi gulma. Akibatnya, air pasang yang seharusnya mengalir ke kawasan persawahan tidak dapat mencapai lahan mereka.
“Kalau salurannya bersih sebenarnya air cukup. Persoalannya dari hulu sampai hilir saluran primer dipenuhi gulma sehingga air tidak bisa mengalir ke lokasi kami,” katanya.
Margono mengaku para petani di kampung Amun Kay tidak memiliki kemampuan maupun peralatan untuk melakukan pembersihan saluran primer secara mandiri karena pekerjaan tersebut membutuhkan alat berat dan biaya yang cukup besar.
“Membersihkan saluran primer tidak mungkin dilakukan secara manual. Kami sudah sibuk mengolah lahan, sementara membersihkan saluran sepanjang itu membutuhkan excavator. Kemampuan petani tentu sangat terbatas,” jelasnya.
Oleh sebab itu, para petani berharap pemerintah menjadikan normalisasi saluran primer sebagai agenda rutin setiap tahun, terutama jika sektor pertanian padi menjadi prioritas pembangunan daerah.
“Kami berharap pemerintah serius. Minimal setiap tahun ada pembersihan saluran primer supaya ketika musim kemarau datang, air tetap bisa masuk ke sawah,” katanya.
Margono mengungkapkan bahwa persoalan tersebut sebenarnya telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah daerah Kabupaten Merauke hampir setiap tahun. Namun hingga kini belum ada realisasi normalisasi saluran di lapangan.
“Jawaban dari pemerintah memang ada, tetapi pelaksanaannya belum pernah kami lihat. Yang kami butuhkan bukan hanya respon, tetapi tindakan nyata,” harap Margono.
Ia menilai pengelolaan jaringan irigasi primer merupakan tanggung jawab pemerintah, sedangkan petani seharusnya dapat fokus mengelola lahan pertanian.
“Petani tugasnya mengolah sawah. Saluran primer itu menjadi kewenangan pemerintah. Jangan sampai petani harus mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tanggung jawabnya,” tegasnya.
Dampak kekeringan akibat tidak adanya air di persawahan kini mulai dirasakan secara langsung oleh petani, terutama di kawasan Blok Timur Kampung Amun Kay. Meski pintu air di Binalahan telah dibuka dan berbagai kendala teknis telah dilaporkan kepada dinas terkait, pasokan air tetap tidak mampu mencapai areal persawahan karena tersendat di saluran primer yang belum dinormalisasi.
Kondisi tersebut diperparah dengan habisnya cadangan air pada embung maupun long storage yang selama ini menjadi penyangga kebutuhan air saat musim kemarau.
Petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui normalisasi saluran primer menggunakan alat berat agar distribusi air kembali normal.
Percepatan penanganan sangat penting untuk menyelamatkan musim tanam sekaligus menjaga produktivitas padi di sentra pertanian Kampung Amun Kay.
“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya berharap saluran primer segera dibersihkan sehingga air bisa kembali mengalir ke sawah dan petani dapat terus berproduksi,” pungkasnya.
Penulis: Jamal Y.Bwariat
- Amun Kay
- berita Merauke
- Binalahan
- Distrik Tanah Miring
- gagal panen
- Headline
- irigasi pertanian
- Kali Maro
- Kali Neto
- Kampung Amun Kay
- kekeringan Merauke
- krisis air sawah
- Merauke
- musim kemarau
- normalisasi saluran primer
- Papua Selatan
- pertanian padi Merauke
- petani Merauke
- produksi padi Papua Selatan
- saluran primer
- sawah Amun Kay










Tinggalkan Balasan