Jembatan Putus di Distrik Ngguti Dibiarkan Rusak, Warga Terpaksa Swadaya Demi Bertahan Hidup

Potret kondisi jembatan di distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Foto: Istimewa

BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Rusaknya sejumlah jembatan penghubung di Distrik Ngguti, Kabupaten Merauke, kembali memperlihatkan minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar di wilayah pedalaman. Hingga kini, warga terpaksa memperbaiki sendiri jembatan yang putus agar aktivitas masyarakat tetap berjalan.

Kerusakan jembatan tersebut menghambat mobilisasi barang, bahan bangunan, hingga kebutuhan pokok masyarakat. Ironisnya, perbaikan darurat dilakukan secara swadaya oleh warga tanpa bantuan pemerintah daerah.

“Mau tidak mau masyarakat yang kerja sendiri sesuai kemampuan kami. Kalau dibiarkan rusak, bagaimana kami bisa bawa kebutuhan masyarakat. Ini saja material bangunan untuk perumahan guru tidak bisa lewat karena mobil terhambat,” ungkap Nyong, warga Distrik Ngguti, kepada media ini, Kamis (5/6/2026).

Warga mengaku kecewa karena kerusakan infrastruktur yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat seolah luput dari perhatian pemerintah Kabupaten Merauke. Padahal akses jembatan sangat vital bagi distribusi logistik, pembangunan, hingga pelayanan masyarakat di distrik tersebut.

Menurut Nyong, pekerjaan jembatan darurat yang dilakukan bersama warga lainnya murni hasil gotong royong masyarakat tanpa campur tangan pemerintah.

“Ada juga jembatan di Kali Buraka yang rusak parah sampai sekarang belum ada penanganan,” katanya.

Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya respon pemerintah terhadap persoalan infrastruktur di kampung-kampung terpencil.

“Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan, masyarakat di Distrik Ngguti justru masih harus berjibaku memperbaiki sendiri akses penghubung agar tidak terisolasi,” tambahnya.

Warga berharap pemerintah daerah tidak hanya hadir saat seremoni pembangunan, tetapi benar-benar turun melihat kondisi di lapangan dan segera melakukan perbaikan permanen terhadap jembatan yang rusak sebelum aktivitas masyarakat lumpuh total.

“Pemerintah jangan hanya datang ke kampung ketika ada maunya, lihat keseharian masyarakat di kampung sehingga apa yang dialami masyarakat kampung supaya pemerintah bisa tahu langsung, bukan cuma duduk terima laporan yang manis-manis saja,” pungkasnya.

Penulis: Jamal Y.Bwariat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!