Bupati Spei Bidana Dorong Generasi Muda Kembali ke Akar Budaya Ap Iwol
BATASPAPUA.COM, PEGUBIN – Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, menegaskan pentingnya kajian dan pemetaan wilayah adat/kebudayaan yang saat ini tengah dilakukan sebagai upaya strategis mengembalikan generasi muda pada akar budaya Ap Iwol, yang merupakan pusat kehidupan masyarakat suku Ok, Mek, dan Min di wilayah tersebut.
“Ap Iwol adalah pusat kehidupan, ritual, sekaligus ekosistem. Di dalamnya terdapat seluruh aspek kehidupan, mulai dari marga, kekayaan alam seperti air, tanah, gunung, hutan, hingga seni, lagu, dan filsafat hidup,” ujar Bupati Spei usai kunjungan kerja di Distrik Oksamol, Rabu (25/3/2026).
Kunjungan tersebut turut dihadiri tim pendamping teknis pemetaan wilayah adat/kebudayaan, di antaranya Hendrik Hada, Ibrahim Peyon dari Universitas Cenderawasih, serta Wika A. Rumbiak dari WWF-Indonesia. Rombongan berangkat dari Oksibil menggunakan pesawat perintis menuju Oksamol yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.
Menurut Bupati Spei, penguatan kembali nilai-nilai Ap Iwol merupakan bagian dari upaya perlindungan manusia, alam, dan lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
“Setiap suku di Pegunungan Bintang memiliki pangan lokal, sumber daya unggulan, serta air sakral yang dikenal sebagai ‘aut’. Semua ini harus dijaga dan dilestarikan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga berdialog dengan masyarakat Oksamol serta mensosialisasikan program pemetaan wilayah adat sebagai bagian dari konsep pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Pegunungan Bintang.
Ia mengajak generasi muda untuk kembali menjalani proses inisiasi adat secara berjenjang, sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kedewasaan. Proses tersebut, menurutnya, menjadi sarana penyatuan manusia dengan alam serta penguatan nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat adat.
Bupati Spei juga menyoroti perubahan karakter generasi muda yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai budaya. Ia menekankan bahwa pendekatan budaya dapat menjadi solusi dalam memperkuat moral dan identitas generasi muda.
“Lagu-lagu adat Pegunungan Bintang mengandung sejarah, nilai lingkungan, serta pesan moral yang dalam. Ini harus dihidupkan kembali sebagai bagian dari pendidikan karakter,” tegasnya.
Selain itu, kunjungan ke Oksamol juga bertujuan menelusuri jejak sejarah Ap Iwol Bungobib dan Ap Iwol Bontapaaip, termasuk perjalanan leluhur Apek Konip yang melintasi sejumlah wilayah hingga ke Papua Nugini, seperti Telepomin, Kikabip, Tabubil, dan Bultembin.
Sebagai tindak lanjut dari kajian dan pemetaan wilayah kebudayaan ini, Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang akan menyusun dua rancangan peraturan daerah (Perda) yang mengatur pengakuan terhadap hukum masyarakat adat, khususnya komunitas Ap Iwol serta wilayah kebudayaan Ok, Mek, dan Min. (Jam’s/Adm)










Tinggalkan Balasan