BATASPAPUA.COM, OKSIBIL – Di tengah keterbatasan wilayah perbatasan yang selama ini identik dengan minimnya akses pendidikan tinggi, Universitas Okmin Papua (UOP) menorehkan sejarah penting.
Sebanyak 246 mahasiswa resmi diyudisium dalam Upacara Yudisium Program Strata Satu Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar Selasa (31/3/2026) di Kampus Jalan Serambakon, Oksibil.
Momen ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan simbol kemenangan atas perjuangan panjang dan penuh keterbatasan dalam menghadirkan pendidikan tinggi di Pegunungan Bintang. Para lulusan yang berasal dari dua fakultas itu menjadi angkatan pertama yang mencatatkan diri dalam sejarah berdirinya universitas tersebut.
246 mahasiswa Universitas Okmin Papua (UOP) ikuti Yudisium perdana pada Selasa (31/3/2026), di halaman kampus baru UOP, Esipding, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Antropologi dan Sosial Sains Nomor 2 Tahun 2026, para lulusan terdiri dari Program Studi Antropologi dan Bahasa Inggris sebanyak 19 orang, serta Fakultas Sains Matematika dan Agroteknologi yang meliputi Agroteknologi 83 orang, Matematika 17 orang, dan Biologi 35 orang.
Pendiri Universitas Okmin Papua yang juga Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, mengungkapkan bahwa capaian ini berangkat dari titik nol yang penuh tantangan. Ia mengenang, pada awal pendirian, hanya tujuh mahasiswa yang mampu lolos seleksi.
“Perjalanan ini tidak mudah. Kami memulai dengan sangat sederhana, bahkan hanya tujuh mahasiswa yang pertama kali diterima. Tetapi hari ini, kita menyaksikan ratusan lulusan lahir dari tanah ini,” ujarnya.
Menurutnya, pendirian universitas ini bukan sekadar menghadirkan institusi pendidikan, melainkan sebuah gerakan untuk membangun peradaban melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kami mendirikan universitas ini bukan hanya untuk sekadar memiliki nama, tetapi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa akses pendidikan menjadi perhatian utama, sehingga biaya kuliah dirancang agar tetap terjangkau bagi masyarakat lokal tanpa mengorbankan kualitas.
Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana ST,. M.Si.
“Tujuan kami jelas, menghadirkan perguruan tinggi yang mampu bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat di daerah ini,” tambahnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa wilayah terpencil tidak menjadi penghalang untuk melahirkan sumber daya manusia unggul. Universitas Okmin Papua yang kini telah memiliki dua fakultas dan lima program studi, terus menatap masa depan dengan rencana pengembangan yang lebih luas.
Para lulusan diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Lulusan Agroteknologi diproyeksikan memperkuat sektor pertanian berkelanjutan, sementara Matematika dan Biologi mendorong pengembangan ilmu pengetahuan berbasis potensi lokal. Di sisi lain, Antropologi dan Bahasa Inggris diharapkan mampu menjaga identitas budaya sekaligus membuka akses komunikasi global.
Menutup sambutannya, Spei Yan Bidana menegaskan komitmen untuk terus membangun kualitas pendidikan di Pegunungan Bintang.
“Kita berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Setiap langkah yang kita tempuh adalah investasi bagi masa depan generasi muda Pegunungan Bintang,” pungkasnya.
Yudisium perdana ini menjadi penanda bahwa dari wilayah yang dahulu dipandang tertinggal, kini lahir harapan baru bahwa pendidikan mampu mengubah arah masa depan. (Ino)*
Tinggalkan Balasan