Sekolah Gratis Gerbang Emas Anak Papua Di Merauke Ujung Timur Indonesia

Tampak sejumlah siswa-siswi Papua di SMA Golden Gate Merauke.

BATASPAPUA.COM, MERAUKE – Pagi hari yang cerah di Merauke, ujung Timur Indonesia, tepatnya di jalan poros peternakan Kelurahan Rimba Jaya, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, tampak sejumlah siswa-siswi asli Papua mengenakan seragam putih abu-abu, berjalan kaki dengan penuh semangat menuju Dua gedung sederhana.

Tepat pukul 07.15 WIT, anak-anak Papua itu sampai pada tempat tujuan mereka, yakni Dua bangunan sederhana yang dikelilingi tembok.

Walaupun terlihat sederhana, namun bangunan itu sangat berharga karena disitulah tempat mereka belajar, menimba ilmu untuk menggapai cita-cita mereka di masa depan.

Gedung itu adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang lokasinya berdekatan dengan kampung Sota, atau kawasan titik 0 kilometer NKRI di ujung Timur Indonesia, perbatasan antara negara Republik Indonesia dan Papua Nugini.

Sekolah tersebut milik swasta dan didirikan khusus untuk anak-anak asli Papua yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu atau sulit dalam pembiayaan sekolah.

Dari kejauhan mata memandang, tampak terlihat jelas tulisan nama sekolah yang sengaja dipampang pada gerbang masuk sekolah, yakni SMA Golden Gate Merauke.

Arti dari nama sekolah tersebut adalah Gerbang Emas bagi generasi muda anak-anak asli Papua. Meskipun baru berjalan Tiga tahun, dengan Surat Keputusan Izin Operasional : 08/10-PENDIDIKAN/V/2022 namun sekolah tersebut dapat menjawab kebutuhan akan pendidikan gratis Sekolah Menengah Atas bagi anak-anak asli Papua.

“Terutama bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah karena kondisi ekonomi lemah,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Sarana Prasarana SMA Golden Gate Merauke, Maria Novita Yeet, S.Pd membuka percakapan pada Kamis (1/8/2024).

Sekolah itu didirikan oleh Yayasan Golden Gate Papua, sebuah Yayasan Kristen dengan NPSN : 70031492, itu menerapkan sekolah tanpa biaya sepeserpun kepada setiap anak didik, alias sekolah gratis.

“Tidak ada pungutan biaya SPP, iuran pembangunan, iuran komite sekolah bahkan pakaian seragam putih abu-abu dan pramuka diberikan gratis kepada peserta didik baru,” katanya Maria.

Dirinya menjelaskan, penerapan gratis biaya sekolah bukan hanya berlaku bagi peserta didik baru, namun hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak putus sekolah akibat kondisi ekonomi yang tidak mampu.

Jauh dari kata sekolah elite, SMA Golden Gate Merauke, memiliki fasilitas sekolah masih sangat terbatas. Hanya tersedia Tiga ruang belajar yang setiap ruangan hanya mampu menampung 30 peserta didik.

Fasilitas lainnya, satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah, dan dua toilet. Meskipun memiliki keterbatasan fasilitas, tidak mempengaruhi berjalannya proses belajar mengajar.

Dalam suasana hening, jauh dari kebisingan dan kemewahan kota Merauke, para siswa Asli Papua tetap semangat belajar, dengan penuh harapan mereka akan menjadi pemimpin di masa depan Papua.

Anak-anak asli Papua ini, dididik oleh Enam tenaga guru yang status mereka bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Setiap hari Senin – Jumat, Enam guru itu memberikan ilmu kepada anak-anak Papua berjumlah 36 anak, dengan rincian kelas X 14 siswa, kelas XI 13 siswa, dan kelas XII sebanyak 9 siswa.

“Bahkan kepala sekolah dan satu orang tenaga tata usaha harus merangkap atau ikut memberikan pelajaran di kelas jika dibutuhkan,” ujar Maria Guru Sejarah yang akrab di panggil siswa dengan sebutan Ibu Mia.

 

  • Kebijakan Biaya Gratis

Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah pendidikan dan itu merupakan hak konstitusi.

Setiap anak di wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, bagian dari kesatuan Negara Indonesia, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak sperti wilayah lainnya di Indonesia dan dijamin oleh negara.

Sebab itu, anak-anak asli Papua harus tetap sekolah dan tidak terhenti hanya dengan alasan lemahnya ekonomi orang tua.

Telah banyak hadir sekolah negeri atau sekolah yang disubsidikan oleh pemerintah untuk masyarakat kurang mampu secara ekonomi, namun faktanya dapat dikatakan hanyalah slogan belaka dan belum dapat dinikmati oleh anak-anak yang benar-benar tidak mampu.

Sekolah negeri seharusnya menjadi sekolah bersubsidi gratis bagi siswa yang kondisi ekonomi orang tuanya lemah.

Segala sesuatu pemerintah siapkan bagi kebutuhan siswa sebagaimana regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Namun dalam penerapannya, di wilayah Merauke bahkan sebagian besar wilayah di Provinsi Papua Selatan, anak-anak Papua tidak dapat menikmati sekolah gratis sepenuhnya.

Benar, sekolah negeri tidak memungut biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari setiap siswa, tetapi secara tidak sadar, pemungutan dilakukan dengan cara program komite sekolah, hal itu dilakukan atas dasar kesepakatan pihak sekolah bersama orang tua siswa, dengan berbagai alasan kebutuhan sekolah.

Pendidikan di Kabupaten Merauke, dapat dikatakan Tidak ada sekolah negeri yang gratis.

“Kalau tidak percaya silahkan mengecek langsung di seluruh SMA negeri di Merauke apakah ada sekolah gratis, sesungguhnya tidak ada sekolah negeri yang seratus persen gratis,” ungkap Kepala Sekolah SMA Golden Gate Merauke, Embaidjan M.S Wanggai, S.Pd M.Pd.

Karena itu, hadirnya SMA Golden Gate Merauke yang didirikan oleh Yayasan Golden Gate Papua, bertujuan untuk menjawab kebutuhan pendidikan gratis bagi anak-anak asli Papua yang kondisi ekonomi orang tuanya lemah agar mereka tetap sekolah dan punya harapan di masa depan.

“Mengapa kami mendirikan SMA bukan SD dan SMP? sebab jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah pertama itu merata di seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Merauke, sedangkan tingkat SMA belum merata di seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Merauke,” tambahnya.

Selain itu, Realita yang terjadi saat ini adalah, anak-anak asli Papua yang tamatan sekolah tingkat pertama dari pedalaman, ketika melanjutkan sekolah menengah atas di kota Merauke, kalah bersaing dengan anak-anak yang tamatan SMP di kota Merauke.

Anak-anak asli Papua seperti itulah yang menjadi fokus perhatian SMA Golden Gate Merauke, untuk didampingi secara khusus agar anak-anak Papua percaya diri dan dapat bersaing dengan anak-anak Nusantara lainnya.

“Hanya satu sekolah SMA yang gratis di Merauke yakin SMA Golden Gate Merauke, silakan buktikan sendiri di lapangan. Sekolah ini anak-anak hanya datang untuk belajar tidak perlu memikirkan biaya. Nanti pihak sekolah dan Yayasan yang memikirkan serta mencari kebutuhan mereka butuhkan selama sekolah. Tujuannya satu agar anak-anak asli Papua jangan putus sekolah karena kondisi ekonomi lemah,” ujar Embaidjan Guru ASN asli Papua senior yang saat ini Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah atau MKKS Provinsi Papua Selatan.

 

  • Kurikulum dan Metode Pembelajaran

Kurikulum yang diterapkan pada SMA Golden Gate Merauke yakni Kurikulum 2013 atau K13 bagi siswa kelas XI dan kelas XII. Sedangkan khusus untuk siswa baru kelas X pada tahun ajaran baru 2024-2025 ini menggunakan Kurikulum Merdeka Belajar.

“Namun sesungguhnya Kurikulum Merdeka Belajar telah diimplementasikan oleh SMA Golden Gate Merauke sejak tahun ajaran 2023-2024 atau tahun lalu dengan metode pembelajaran di alam terbuka,” terang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Humas SMA Golden Gate Merauke, Yacaba Sarah Notanubun, S.Pd menyambung perbincangan.

Sarah menjelaskan, SMA Golden Gate Merauke mempunyai ciri khas dalam sistem pembelajaran, yang membedakan dengan sekolah pada umumnya di Kabupaten Merauke adalah melakukan proses belajar mengajar di luar sekolah atau di alam terbuka di wilayah Merauke.

Pembelajaran di alam terbuka, dilakukan setiap Dua kali dalam sebulan di tempat yang berbeda, dapat dilakukan di tepi pantai, taman wisata alam maupun ditempat bersejarah bahkan juga di instansi sesuai dengan tema yang ditentukan oleh para guru.

Pembelajaran di alam terbuka ini wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas X, kelas XI dan kelas XII. Pembelajaran alam tersebut dikemas dalam bentuk permainan dengan rintangan dan pemecahan masalah sesuai dengan target pencapaian pembelajaran yang telah direncanakan oleh setiap guru mata pelajaran.

Sarah yang juga guru matematika itu, memaparkan bahwa, pemberian materi pembelajaran alam terbuka dibuat secara sederhana, sebab kemampuan memahami materi dalam terori oleh siswa pada SMA Golden Gate Merauke tidak dapat disamakan dengan siswa pada sekolah-sekolah ternama di wilayah Kabupaten Merauke.

Sebagian besar siswa berasal dari daerah pedalaman Papua, memiliki keterbatasan untuk memahami sebuah materi pelajaran atau teori yang tinggi. Bahkan ada siswa juga yang belum dapat membaca dengan lancar, sehingga metode pembelajaran yang diterapkan tidak dapat disamaratakan dengan proses pembelajaran pada sekolah-sekolah ternama di Merauke.

Metode pembelajaran dibuat sederhana, asalkan siswa dapat mengerti pembelajaran yang diberikan.

“Contoh, mendampingi anak-anak yang belum lancar membaca, bagaimana caranya supaya anak-anak kita ini tidak malu dengan teman yang lain, mereka diajak oleh para guru keluar dari lingkungan sekolah berjalan mencari tempat yang nyaman barulah diajarkan untuk membaca dengan lancar secara bertahap,” katanya.

Selain itu, anak-anak yang dua hari berturut-turut tidak datang ke sekolah dan tidak ada pemberitahuan, para guru langsung mendatangi rumah mereka untuk mencari tahu kendala yang dihadapi.

Pendekatan tersebut dilakukan agar anak-anak Papua dapat merasakan langsung, bahwa mereka telah mendapat perhatian serius, sehingga tidak ada muncul lagi keinginan untuk berhenti sekolah.

Ujian akhir semester genap tahun ajaran 2023-2024 yang baru saja berlalu ada beberapa siswa yang tidak masuk sekolah untuk mengikuti ujian. Namun, para guru tidak tinggal diam, guru mendatangi rumah siswa tersebut untuk memberikan ujian akhir semester di rumah mereka dan disaksikan langsung oleh orang tua atau wali.

“Inilah pendekatan dan pelayanan yang kami lakukan agar anak-anak Papua tetap memperoleh hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak sehingga tetap tertanam rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Sarah.

 

  • Kolaborasi Dengan Pemerintah

 

Sebagai sekolah swasta yang masih minim fasilitas SMA Golden Gate Merauke membuka diri untuk berkolaborasi dengan semua pihak terutama pemerintah daerah.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah tentunya agar dapat memenuhi kebutuhan anak-anak asli Papua yang bersekolah pada SMA tersebut. Dan sekolah yang 99 persen menampung anak-anak asli Papua yang kondisi ekonomi orang tuanya lemah tersebut pada tahun ajaran 2023-2024 tercatat sebagai sekolah swasta penerima dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS dari Kementerian Pendidikan.

Selain itu, pada tahun ajaran yang sama SMA Golden Gate Merauke juga tercatat sebagai sekolah swasta yang mendapatkan bantuan seragam putih abu-abu dan pramuka dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan dari sumber dana Otonomi Khusus Papua yang fokus pada bidang Pendidikan.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah baik Kabupaten Merauke maupun Provinsi Papua Selatan terus dilakukan agar ada asrama khusus menampung anak-anak asli Papua. Karena sebagian siswa datang dari pedalaman masih menyewa rumah untuk menampung mereka

“Selain mendapat dukungan dari pemerintah dengan dana BOS, seluruh kebutuhan dan program sekolah dibiayai oleh Yayasan Golden Gate Papua di Jayapura dengan anggaran yang diperoleh dari para donatur baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Kepala Sekolah SMA Golden Gate Merauke.

 

  • Harapan Siswa

Sekolah gratis adalah harapan setiap anak-anak asli Papua terlebih khusus mereka yang kondisi ekonomi orang tuanya lemah. Hanya dengan sekolah gratis anak-anak asli Papua yang tidak mampu itu dapat belajar agar bisa bersaing dengan anak-anak nusantara lain di Indonesia.

Hal itulah yang dirasakan oleh Meli Wisal siswa kelas XII SMA Golden Gata Merauke. Meli Wisal berasal dari Kabupaten Pegunungan Bintang salah satu daerah konflik bersenjata antara TNI-Polri dan Kelompok Bersenjata.

Meli datang jauh-jauh dari Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua untuk sekolah di SMA Golden Gata Merauke, Provinsi Papua Selatan karena aman dari konflik kekerasan bersenjata. Serta SMA Golden Gata Merauke gratis bagi anak-anak asli Papua yang kondisi ekonomi orang tuanya lemah.

“Bersekolah di sini saya rasa aman dan nyaman bukan hanya karena jauh dari kampung halaman saya yang saat ini sering konflik, tetapi yang membanggakan saya adalah suasana kekeluargaan di lingkungan sekolah,”kata Meli

Selain itu, kata Meli, pihak sekolah juga menyiapkan tempat tinggal yakni menyewa rumah untuk dirinya serta menyiapkan kebutuhan makan sehari-hari.

Dia menceritakan bahwa para guru di sekolah membinanya seperti anak mereka sendiri. Walaupun jauh dari orang tua di kampung dia tetap merasakan adanya bimbingan selayaknya orang tua sendiri.

“Hal ini yang membuat saya merasa nyaman dan tetap sekolah hingga lulus tahun depan nanti. Sekolah juga gratis bahkan kebutuhan saya juga dipenuhi oleh pihak sekolah dan Yayasan meskipun belum sempurna,” kata Meli pula.

Meli berharap agar SMA Golden Gata Merauke tetap eksis dan terus berkembang maju sebab sekolah gratis itu adalah pintu gerbang bagi anak-anak asli Papua menuju masa depan yang baik.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Blesing Asaribab siswa kelas sepuluh yang saat ini tinggal bersama Meli di sebuah rumah kontrak.

Blesing Asaribab meninggalkan keluarga di kampung Wasur kawasan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga Papua Nugini untuk sekolah di SMA Golden Gate Merauke karena gratis belas dari biaya apa pun.

Ia menceritakan bahwa para guru di sekolah membinanya seperti anak mereka sendiri. Walaupun jauh dari orang tua di kampung dia tetap merasakan adanya bimbingan selayaknya orang tua sendiri.

Blesing berharap agar SMA Golden Gata Merauke tetap eksis dan terus berkembang maju sebab sekolah gratis itu adalah pintu gerbang bagi anak-anak asli Papua menuju masa depan yang baik. (*)

 

(Redaksi/AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: STOP MENCURI BERITA !!!